Industri Penerbangan Jepang Berpaling ke Jelantah Demi Netralitas Karbon
📅 Selasa, 24 Jan 2023, 20:11 WIB | Oleh: Ilham SudrajatEksekutif Neste Sami Jauhiainen mengatakan kilang itu merupakan bagian dari upaya perusahaannya untuk menumbuhkan industri ini dan meningkatkan penggunaan SAF di Asia.
"Kawasan Asia Pasifik mencatat hampir 40 persen konsumsi bahan bakar jet global dan ini akan terus tumbuh dalam beberapa tahun dan dekade mendatang," jelas Jauhiainen. "Kami akan berada di posisi yang tepat guna memenuhi kebutuhan dan permintaan konsumen seluruh wilayah Asia Pasifik dari kilang produksi kami di Singapura," imbuh dia.
Pada awal 2022, serangkaian perusahaan terkenal Jepang membentuk Act For Sky, sebuah organisasi yang dikhususkan untuk memproduksi dan mendorong SAF. Anggotanya termasuk maskapai-maskapai besar All Nippon Airways dan Japan Airlines, serta juga perusahaan yang tidak masuk dalam industri penerbangan seperti Itochu, Idemitsu Kosan, dan Mitsubishi Heavy Industries.
Salah satu fokus utama grup itu adalah mendapatkan jelantah. Grup itu telah menyusun daftar bisnis yang bersedia bekerja sama, termasuk restoran cepat saji besar, produsen makanan beku, jaringan restoran sushi, dan hotel.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tiga anggota Act For Sky yaitu JGC, Cosmo Oil, dan REVO International memimpin upaya grup itu untuk memproduksi SAF di dalam negeri. Perusahaan-perusahaan itu saat ini membangun pabrik di Kota Sakai, Osaka, yang akan memiliki target produksi sekitar 30.000 ton dalam tiga tahun.
Ini jumlah yang relatif kecil, tetapi baru yang pertama dari banyak proyek serupa yang direncanakan di Jepang.
Nishimura Yuki, eksekutif JGC yang terlibat dalam Act For Sky, mengatakan pendirian basis produksi dalam negeri sangat penting guna memastikan keberlangsungan keseluruhan proyek SAF.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Minyak goreng bekas pakai saat ini dikirim ke luar negeri, diproses menjadi SAF, dan dibawa kembali ke Jepang," jelas Nishimura. "Tentu saja, mengekspor dan mengimpor menghasilkan karbon dioksida dan memakan biaya. Jadi demi kepentingan nasional dan target dekarbonisasi Jepang, kami perlu sesuatu yang berbeda," imbuh dia.
Kompetisi di antara negara-negara terus memanas dalam pencarian alternatif jelantah. Kenaikan permintaan bagi limbah minyak seperti itu telah membuat harganya membubung dan memicu kekhawatiran kekurangan pasokan. Sebagian peneliti meyakini limbah pangan dan kayu punya potensi untuk digunakan dalam SAF.
"Saya bertekad untuk mengerahkan segala upaya untuk mengembangkan SAF secara domestik," tutur Nishimura. "Tujuannya agar orang-orang tidak merasakan malu lagi saat terbang," pungkas dia. NHK/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!