Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dominasi Pekerja Informal Cerminkan Rapuhnya Pasar Kerja

24 Rabu, 24 Jun 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Dominasi Pekerja Informal Cerminkan Rapuhnya Pasar Kerja Dominasi Pekerja Informal Cerminkan Rapuhnya Pasar Kerja Doc: antara
Ket. Sektor Keteganakerjaan - Sekitar 58 Persen Tenaga Kerja Masih Bekerja di Sektor Informal

Meski sektor informal berperan sebagai penyangga saat ekonomi melambat, dominasi sektor ini dalam pasar tenaga kerja berpotensi menghambat peningkatan produktivitas nasional dan kesejahteraan pekerja dalam jangka panjang.

JAKARTA – Struktur pasar kerja saat ini belum sepenuhnya mampu menyediakan pekerjaan formal yang produktif dan berkelanjutan. Sebab, separuh lebih tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal.

Tingginya proporsi pekerja informal mencerminkan keterbatasan penciptaan lapangan kerja berkualitas, sehingga sebagian besar angkatan kerja harus bertahan di sektor dengan pendapatan tidak pasti, minim perlindungan sosial, dan rentan terhadap gejolak ekonomi. Kondisi ini juga mengindikasikan adanya kesenjangan antara pertumbuhan ekonomi dan kemampuan sektor formal menyerap tenaga kerja.

Pengamar ekonomi sekaligus mahasiswa doktoral Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur, Frederik M Gasa menilai dominasi pekerja informal di Indonesia tidak boleh dianggap sebagai capaian positif karena mencerminkan masih banyaknya pekerja yang tidak memiliki kepastian hukum dan jaminan sosial. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian utama pemerintah, terutama karena berkaitan dengan janji Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menciptakan 19 juta lapangan kerja baru.

“Pekerja informal yang mendominasi bukanlah hal yang patut dibanggakan. Mereka yang bekerja tanpa adanya kepastian hukum dan jaminan sosial tentu harus menjadi prioritas utama pemerintah,” ujar Frederik yang juga Pengajar Komunikasi Politik dan Literasi Digital Univeritas Binus Malang tersebut, Selasa (23/6).

Frederik menyoroti kontradiksi antara tingginya jumlah pekerja informal dan ambisi mewujudkan Indonesia Emas. Dia mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menyediakan pekerjaan layak bagi generasi muda dan menilai target Indonesia Emas berisiko menjadi sekadar cita-cita jika persoalan ketenagakerjaan tidak ditangani secara serius.

Selain itu, dia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah turut menambah beban masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok yang bergantung pada impor. Karena itu, Frederik mengajak masyarakat bersikap lebih realistis bahwa memperoleh pekerjaan layak saat ini lebih banyak bergantung pada upaya masing-masing, sembari berharap pemerintah lebih fokus menjawab kebutuhan dasar masyarakat, terutama penyediaan lapangan kerja berkualitas.

Seperti diketahui, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 58 persen tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal berdasarkan Outlook Ketenagakerjaan 2026. Menurut Kepala Barenbang Ketenagakerjaan Kemnaker Anwar Sanusi, kondisi tersebut menunjukkan transformasi pasar kerja menuju pekerjaan yang lebih produktif dan berkualitas masih perlu diperkuat.

Perbarui Pemetaan

Pemerhati isu kemiskinan dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi menilai klasifikasi pekerja formal dan informal dalam Sakernas perlu diperbarui agar lebih mencerminkan kondisi ketenagakerjaan saat ini. Menurutnya, perkembangan ekonomi digital telah melahirkan banyak pekerja freelance berpenghasilan tinggi yang masih masuk kategori informal, sementara sebagian pekerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bekerja tetap justru menerima upah rendah tanpa perlindungan ketenagakerjaan.

“Kemnaker, Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), dan BPS (Badan Pusat Statistik) perlu menyusun definisi yang lebih relevan agar kebijakan ketenagakerjaan, insentif, dan perlindungan sosial dapat dirancang secara tepat sasaran,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Olahraga
Sulut Juara Umum Kejurnas P...
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.