Perlu Ada Pusat Pendidikan Vokasi
📅 Sabtu, 19 Feb 2022, 06:57 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: ISTIMEWA
Politeknik sebagai pendidikan tinggi vokasi merupakan bagian dalam mewujudkan visi pemerintah membangun sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter. Politeknik diharapkan mampu melahirkan lulusan yang cepat terserap dunia kerja.
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memiliki program Kampus Merdeka Vokasi. Diharapkan program ini makin memperkuat kolaborasi antara pendidikan tinggi vokasi dan dunia usaha dunia kerja (DUDI).
Di sisi lain, politeknik dihadapkan dengan berbagai tantangan salah satunya terkait kualitas yang belum merata. Hal ini bisa semakin parah dengan adanya pandemi Covid-19. Kehilangan kompotensi atau competences loss jadi ancaman para mahasiswa politeknik mengingat terhambatnya kegiatan praktik dan magang sebagai ciri khas pembelajaran.
Untuk mengetahui terkait kondisi pendidikan vokasi khususnya politeknik di Indonesia, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma'rup, mewawancarai Direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines), Prof. Dr. Totok Prasetyo, B.Eng., M.T. dalam berbagai kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.
Menurut Bapak, bagaimana peran pendidikan vokasi dalam mendukung visi pemerintah dalam membangun SDM unggul dan berkarakter?
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendidikan vokasi termasuk akan unggul kalau balik lagi kayak dulu. Waktu itu politeknik benar-benar menciptakan lulusan yang berkarakter dan unggul. Lulusannya sudah luar biasa. Industri tidak pakai lama jadi begitu mahasiswa lulus langsung direkrut. Bahkan, ada lulusan angkatan pertama anak buahnya insinyur-insinyur.
Jadi, semua pihak mesti memahami betul porsi setiap perguruan tinggi. Untuk pendidikan vokasi dan politeknik itu didesain untuk menjembatani profesi engineer dan worker. Industri banyak butuh tenaga seperti itu. Jadi lulusan pendidikan vokasi diharapkan bisa berpikir seperti insinyur dan bekerja seperti lulusan SMK. Waktu itu begitu dan hasilnya luar biasa.
Apa yang perlu ditingkatkan politeknik agar bisa melahirkan lulusan yang berkualitas?
Sebaiknya Anda baca juga:
Dulu, pendidikan vokasi terutama politeknik kita karakternya sudah dibangun agar para mahasiswa disiplin, jujur, inovatif, teknu, dan ulet. Ini karakter luar biasa. Dengan ini sekolah vokasi itu akan menjadi manusia yang tangguh dan unggul.
Di sisi lain, pendidikan vokasi, khususnya politeknik, pertama harus memenuhi kebutuhan tidak hanya industri, tapi pemerintah. Untuk kebutuhan pemerintah, misal bisa saja membuka diploma 4 atau sarjana terapan untuk guru produktif SMK. Guru produktif SMK itu mestinya dari politeknik yang nantinya dibekali metodologi belajar.
Kedua, pendidikan vokasi itu harus berkarakter makanya harus ada karakter yang dibangun. Misal, ada 4 SKS kepoliteknikan. Jadi orang politeknik harus paham dulu politeknik makanan apa, harus kayak apa, ke depan mau ngapain itu harus paham dulu.
Ketiga, pendidikan vokasi itu harus spesifik. Jadi kalau mau membangun pendidikan vokasi cek ketiga sisi itu dulu.
Tiap politeknik memiliki karakteristik atau keunikan sendiri, tapi juga secara kualitas masih ada kesenjangan. Upaya apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengatasi hal tersebut?
Mendirikan lagi dan membangun Polytechnic Education Development Center (PEDC). Dengan itu membuat politeknik terstandarisasi. Hari ini misal kalau mau bikin bisa semcam pusat pendidikan vokasi kalau tidak ingin hanya politeknik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!