Perlu Ada Pusat Pendidikan Vokasi
📅 Sabtu, 19 Feb 2022, 06:57 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rupPEDC itu dulu mencetak lulusan-lulusan yang menjadi dosen di politeknik. Karena dilatih di tempat yang sama, maka kualitasnya juga hampir sama.
Kalau untuk dosen ini, sekarang bisa bikin dari polteknik-politeknik besar yang sudah mumpuni. Jadi dibuat S2 untuk menyiapkan dosen politeknik di mana pun. Jadi Pendidikan vokasi jugan menyiapkan dosen-dosennya yang dari vokasi. Jangan dari perguruan tinggi akademik, karena nanti akan bias.
PEDC atau pusat pendidikan vokasi ini jika ada nantinya mengurusi apa saja?
Salah satunya bisa jadi think tank kebijakan terkait vokasi. Misalkan, bisa membahas masukan-masukan dari industri untuk memenuhi kebutuhan pasar. Di sisi lain bisa juga mengkaji kebijakan agar lebih mudah dan tepat sasaran. Nah, pusat ini nanti melahirkan standar minimal untuk mengatasi kesenjangan politeknik satu dengan politeknik yang lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah sering meminta kurikulum disesuaikan dengan industri. Apakah itu juga bisa menjadi bagian dalam tugas pusat pendidikan vokasi?
Di politeknik hampir semua kurikulum melibatkan industri. Jadi pertanyaan sebab ada kuantitas ada kualitas. Di sisin lain, politeknik bahkan prodi ada kekhasan sendiri-sendiri dan capaian-capaian sendiri.
Kalau ada pusat pengembangan pendidkan vokasi atau politeknik tadi nanti digodok di sana dengan industri lebih besar yang sudah komprehensif. Jadi efisien dan tidak sendiri-sendiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nantinya, ada standar minimal. Masing-masing politeknik mengembangkan lagi sesua kekhasannya. Itu tergantung. Tapi, setiap prodi ada kurikulum yang relatif sama.
Sebagai contoh, kurikulum dulu pemerintah menetapkan yang wajib ada mata kuliah bahasa indonesia, pancasila, dan agama. Sekarang untuk politeknik untuk prodi ada kemampuan minimal yang harus dicapai.
Hal ini penting karena lulusan politeknik tidak hanya bekerja di regional saja, tapi keluar sehingga butuh standarisasinya. Adanya standar minimal juga agar gap tidak jomplang. Politeknik juga punya keunikan yang menjadi ciri khas masing-masing.
Ada anggapan kalau lulusan pendidikan vokasi justru masih sulit terserap lapangan kerja. Bagaimana tanggapan Bapak terkait hal tersebut?
Itu harus dilihat pendidikan vokasi yang mana. Harus kita lihat juga datanya. Kalau lulusan politeknik, most of us dari 44 politeknik negeri itu terserap industri dan mereka bisa menciptakan kerja sendiri juga.
Pemerintah giat mendorong para mahasiswa belajar di luar kampus, salah satunya magang. Apakah itu sudah tepat?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!