Unsur Rahasia di Balik Tinta Mesir Kuno
📅 Selasa, 03 Nov 2020, 14:05 WIB | Oleh: Haryo Brono
Salah satu unsur yang membuat bangsa Mesir kuno dapat ditelusuri jejak dan dikagumi karena adanya tulisan-tulisan serta gambar-gambar yang berhasil ditemukan. Hal ini tidak lepas dari kemampuan membuat tinta canggih dan kertas menggunakan unsur-unsur serta teknik 'modern.'
Bangsa Mesir kuno telah menulis pada kertas sejak 3.200 sebelum Kristus. Mereka bukan hanya menciptakan tinta dari jelaga pembakaran, namun juga membuatnya dari bahan organik dan bahkan logam untuk menciptakan warna tertentu.
Kemampuan membuat tinta ini menarik perhatian para ilmuwan untuk menyingkapnya. Hasil analisis pada 12 pecahan (fragmen) kertas dari bahan papirus dari bangsa Mesir cukup mengagetkan. Mereka memakai kombinasi antara tinta merah dan hitam ketika menuliskan kata-kata pada kertas.
Peneliti mengambil sampel tinta pada kertas bertahun sekitar 100-200 sesbelum Kristus yang didapat dari perpustakaan Tebtunis Temple. Cara analisisnya dengan berbagai teknik radiasi sinkrotron, termasuk penggunaan sinar-X berkekuatan tinggi untuk menganalisis sampel mikroskopis.
Sinar X berguna untuk mengungkapkan komposisi unsur, molekuler, dan struktural tinta dengan detail yang belum pernah terjadi. "Dengan menerapkan teknologi tercanggih abad ke-21 untuk mengungkap rahasia tersembunyi teknologi tinta kuno, kami berkontribusi pada pengungkapan asal mula praktik menulis," kata fisikawan dari European Synchrotron Radiation Facility (ESRF) di Prancis Marine Cotte seperti dikutip Science Alert.
Tinta merah umumnya digunakan untuk menulis judul, instruksi, atau kata kunci. Merah kemungkinan besar diwarnai dengan pigmen alami dari oker. Pada warna yang ada para peneliti menemukan jejak besi, aluminium, dan hematit.
Yang lebih menarik, penemuan senyawa berbasis timbal dalam tinta berwarna hitam dan merah. Namun, timbal pada tinta bukan berfungsi sebagai perwarna seperti halnya besi, aluminium, dan hematit, tapi untuk tujuan teknis. Yaitu agar tinta terikat pada kertas dan tidak menyebar.
Dalam penelitian ini timbal membentuk lingkaran cahaya tak terlihat yang mengelilingi partikel oker. "Fakta bahwa timbal tidak ditambahkan sebagai pigmen, tetapi sebagai pengering menyimpulkan, tinta memiliki resep yang cukup rumit dan tidak dapat dibuat sembarang orang," kata ahli Mesir Kuno, dari Universitas Kopenhagen, Denmark, Thomas Christiansen.
Teknik menggunakan timbal sebagai agen pengering juga diadopsi Eropa abad ke-15 ketika lukisan minyak mulai bermunculan. Namun, yang lebih hebat, orang-orang Mesir kuno menemukan cara tersebut pada kira-kira 1.400 tahun sebelumnya.
Orang Khusus
Dalam analisisnya, Christiansen berasumsi, pendeta kuil yang menulis menggunakan tinta bukan orang yang mencampurkannya. Ada orang khusus bertugas mancampurkan beberapa bahan. "Kami berhipotesis bahwa ada bengkel khusus menyiapkan tinta," kata Christiansen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!