Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RI Pasang Target Ambisius Turunkan Emisi

📅 Jumat, 26 Apr 2024, 10:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
RI Pasang Target Ambisius Turunkan Emisi Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Lembaga think-thank Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai target pada dokumen kontribusi nasional penurunan emisi kedua (SNDC) yang sedang disusun pemerintah, harus lebih ambisius agar selaras dengan komitmen dalam Perjanjian Paris.

"Temuan Inventarisasi Global (Global Stocktake) pertama di COP 28 yang menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan target penurunan emisi global 20,3-23,9 gigaton setara karbon dioksida, harus menjadi pertimbangan target penurunan emisi di 2030 yang lebih ambisius," kata Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa dalam keterangan di Jakarta, Kamis (25/4).

Menurut Fabby, berbeda dengan dokumen Peningkatan Target NDC (Enhanced NDC) pada 2022, penetapan target penurunan emisi pada dokumen SNDC tidak akan lagi diukur berdasarkan penurunan emisi dari skenario pertumbuhan dasar (business as usual). SNDC akan membandingkan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) terhadap tahun rujukan (reference year) 2019, yang berbasis inventarisasi GRK.

Metode penetapan emisi ini dinilai akan lebih akurat dan berkontribusi terhadap target pengurangan emisi GRK global sebesar 43 persen pada 2030 dibandingkan emisi pada 2019.

Menurut Fabby, pemutakhiran skenario yang tidak lagi berdasar pada business as usual dan beralih ke skenario yang mengacu pada reduksi emisi historis sebagai rujukan penetapan target, merupakan langkah maju. Pendekatan ini sesuai rekomendasi yang disampaikan IESR pada 2023.

Menurut dia, salah satu aksi mitigasi yang dapat meningkatkan target penurunan emisi di SNDC berasal dari peningkatan bauran energi terbarukan. Agar selaras dengan upaya untuk menjaga kenaikan suhu bumi tidak melebihi 1,5 derajat celcius sesuai komitmen Perjanjian Paris, maka bauran energi terbarukan dalam energi primer perlu mencapai 55 persen di 2030.

Sasaran Reduksi

Koordinator Kebijakan Iklim IESR Delima Ramadhani menyampaikan proyeksi emisi terbaru oleh Climate Action Tracker (CAT) terhadap Enhanced NDC menunjukan kenaikan emisi hingga 1,7- 1,8 giga ton setara karbon dioksida pada 2030.

Jumlah emisi ini belum termasuk emisi dari sektor kehutanan dan lahan. Indonesia perlu menargetkan reduksi emisi 2030 pada kisaran 829-859 juta ton setara karbon dioksida untuk sejalan dengan target 1,5 derajat Celcius atau 970-1.060 juta ton setara karbon dioksida untuk target di bawah 2 derajat Celcius.

"Pemerintah perlu memasukkan aspek keadilan dan memberikan alasan mengapa target reduksi emisi yang tertera dalam SNDC ini dinilai sebagai bagian yang adil dari kontribusi Indonesia dalam upaya mitigasi iklim global. Dengan demikian, dapat terlihat apabila SNDC sudah mencerminkan 'ambisi tertinggi paling memungkinkan' dalam pengurangan emisi," kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gunung Anak Krakatau Terus Erupsi, Jakarta Kena Sebaran Abu Vulkanik
    Sangat mungkin terjadi erupsi yg lebih besar, kemarin ...
  • Ditentang AS, PBB Adopsi Resolusi 'Koreksi Peta Dunia', Benua Afrika Ternyata 14 Kali Lebih Besar!
    Indonesia lebih besar dari Eropa. Jarak antara Sabang ...
  • Sapi Aceh Dibawa ke Pulau Terluar, Aceh Besar Bidik Ketahanan Pangan
    Kenapa harus ke pulau aceh pengembangan plasma nutfah ...
  • Aturan Insentif Motor Listrik Masih Digodok, Pemerintah Siapkan Rancangan Perpres
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai urgensi payung hukum ...
  • Magang Nasional 2026 Tahap II Dibuka, Anak Muda Berebut Kesempatan Masuk Industri
    Kesenjangan kompetensi yang menjadi latar belakang program Magang ...
Advertisement
Shin Tae-yong Jumawa Persija Hanya Pakai Kekuatan 50% saat Kalahkan Borneo, Awas Kesandung Coach!

Shin Tae-yong Jumawa Persija Hanya Pakai Kekuatan 50% saat Kalahkan Borneo, Awas Kesandung Coach!

06 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.