Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pertanian dan Ekonomi Desa Harus Dapat Perhatian Lebih

📅 Jumat, 06 Jan 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pertanian dan Ekonomi Desa Harus Dapat Perhatian Lebih Doc: ANTARA/FAKHRI HERMANSYAH
Ket. SETOP ALIH FUNGSI LAHAN SUBUR PERTANIAN I Foto udara pembangunan rumah di Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, belum lama ini. Pemerintah perlu menyetop beralih fungsinya lahan-lahan subur pertanian menjadi perumahan atau kawasan perindustrian untuk mengantisipasi krisis pangan global yang sudah melanda beberapa negara di dunia.

» Untuk regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian, pemerintah harus menjaga nilai tukar petani.

» Perkuat akses petani ke lembaga pembiayaan dan pasar.

JAKARTA - Krisis pangan global tidak hanya sekadar isu belaka. Organisasi pangan dunia (Food and Agriculture Organization, FAO) pada peringatan Hari Pangan Sedunia pertengahan Oktober tahun lalu melaporkan bahwa terdapat lima negara yang terancam atau bahkan telah mengalami kelaparan.

Menurut FAO, ketahanan pangan global saat ini tengah menghadapi ancaman dari berbagai arah seperti melonjaknya harga pangan, harga energi, krisis iklim, konflik Russia-Ukraina yang tak berkesudahan, serta meningkatnya populasi dunia. Indonesia pun tidak terlepas dari ancaman tersebut.

Ekonom Senior Indef (Institute for Development of Economics and Finance), Fadhil Hasan, dalam diskusi Catatan Awal Ekonomi Tahun 2023 di Jakarta, Kamis (5/1), mengatakan Indonesia akan menghadapi sedikitnya lima tantangan sektor pangan dan pertanian dalam jangka menengah hingga jangka panjang.

Tantangan pertama, perihal pertumbuhan populasi, urbanisasi, dan ketimpangan pertumbuhan penduduk. FAO melaporkan terdapat 828 juta atau hampir 10 persen dari penduduk dunia terdampak kelaparan. Angka tersebut meningkat signifikan dari 782 juta penduduk pada 2021.

Padahal menurutnya, FAO memproyeksikan jumlah penduduk dunia akan terus tumbuh mencapai 8,6 miliar pada 2030, kemudian 9,8 miliar pada 2050, dan 11,2 miliar pada 2100.

Sebaiknya Anda baca juga:

"Lebih dari dua per tiga penduduk dunia akan tinggal di perkotaan pada 2050. Jadi, orang-orang yang bergerak di sektor pangan akan semakin menurun," katanya.

Tantangan kedua yaitu peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang akan mengubah pola atau komposisi konsumsi pangan penduduk ke depan, seperti tren meningkatnya konsumsi daging dan susu sehingga meningkatkan ketidakpastian di sektor pertanian.

Ketiga, kelangkaan sumber daya alam (SDA) seperti ketersediaan lahan pertanian yang mulai berkurang karena terdegradasi oleh industri maupun hunian. "Degradasi ini mempengaruhi kualitas penghidupan masyarakat lokal dan kesehatan ekosistem jangka panjang," kata Fadhil.

Tantangan berikutnya adalah perubahan iklim yang dapat mempengaruhi pasokan pangan, kualitas pangan, stabilitas ketahanan pangan, hingga sifat gizi pada tanaman pangan.

Perubahan iklim ini terutama akan merugikan negara berpenghasilan redah dan menengah seperti Indonesia karena penduduknya bergantung pada sektor pertanian dan juga rentan terhadap krisis pangan.

Tantangan terakhir, bencana alam dan konflik yang bisa mengganggu produksi pertanian serta pendapatan petani dan buruh tani sehingga berdampak pada penurunan ketersediaan komoditas dan berujung pada inflasi harga pangan. "Perubahan iklim ini perlu menjadi perhatian mengingat kebergantungan sektor ini pada iklim dan berdampak signifikan bagi tingkat produksi sektor pertanian," kata Fadhil Hasan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Liga Inggris: Morgan Rogers...
Daerah
Puncak musim kemarau di Kot...
Olahraga
Cedera Badosa Bantu Sherif ...

Panen ikan nila Larasati

2 jam lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Panen ikan nila Larasati
Daerah
Fasilitas desalinasi untuk ...
Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.