Perguruan Tinggi Harus Mampu Jadikan Pandemi sebagai Ladang Seluas-luasnya
📅 Sabtu, 21 Agu 2021, 07:30 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: istimewa
Perguruan tinggi (PT) menjadi salah satu pilar penting pembangunan bangsa. Tridarma PT mengarahkan mahasiswa maupun dosen untuk tidak hanya fokus pada pendidikan, tapi juga penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Kampus juga harus hadir menyelesaikan masalah-masalah. Jika tidak, sebutan "Menara Gading" akan terus tersemat pada PT.
Pandemi Covid-19 juga memberi bukti PT dapat bersumbangsih dalam proses penanganan. Tidak sedikit produk-produk inovasi PT membantu percepatan penanganan pandemi. Para mahasiswa juga terlibat dalam penanganan, baik menjadi tenaga kesehatan ataupun mengajar.
Adapun pemerintah mengeluarkan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) untuk memberi ruang seluas-luasnya kepada PT. Meski begitu, kebijakan tersebut harus mampu melahirkan sumber daya manusia berkualitas. Di sisi lain, potensi-potensi saat ini harus juga dimanfaatkan dengan optimal. Untuk mengetahui kondisi PT Indonesia lebih dalam, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma'rup, mewawancarai Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) yang juga Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ir Panut Mulyono, dalam beberapa kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.
Sebagai Ketua FRI, bagaimana Bapak melihat PT berperan memberi solusi dalam permasalahan masyarakat?
Sebetulnya, potensi perguruan tinggi besar untuk bisa digerakkan menjalankan proyek-proyek yang sudah dilakukan pemerintah. Tinggal kita penguatan-penguatan saja. FRI sendiri telah menjalin MoU dengan berbagai pihak, termasuk kementerian-kementerian. Sekarang kita tinggal implementasi sambil juga menjalin MoU baru dengan berbagai pihak lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana proses pengimpelementasiannya?
Kita bisa memberdayakan mahasiswa-mahasiswa. Misalnya, melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Kita bisa arahkan mereka untuk terlibat, baik secara praktik maupun pengetahuan atas masalah-masalah rakyat. Contoh, kita sudah menjalin MoU dengan BKKBN terkait percepatan penanganan stunting. Nanti, KKN Tematik kita atur program-program yang sesuai dengan penanganan stunting.
Untuk program pemerintah lain, ada program dana desa. Itu kan besar sekali, tapi belum tentu desa-desa bisa merencanakan dengan baik untuk pembelanjaannya. Nah, ini potensi kita untuk memberi ruang bagi mahasiswa melalui KKN. Mereka dapat memberi pelatihan-pelatihan, mulai dari perencanaan dan prioritas sampai pembukuan. Lalu, pariwisata di Indonesia juga bisa kita tingkatkan kualitasnya dengan keterlibatan mahasiswa. Mahasiswa sangat bisa membuat visualisasi menarik untuk promosi pariwisata. Namun, semua itu bisa tercapai dengan kerja sama, baik kementerian terkait maupun pemerintah desa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara pribadi, apa fokus permasalahan yang menjadi keresahan Bapak?
Saya juga memiliki perhatian pada pembangunan kawasan perbatasan. Itu harus dilakukan dengan baik. Jangan sampai masyarakat Indonesia di perbatasan lebih terlayani oleh negara tetangga, baik fasilitas maupun mata pencaharian. Ini harus diperhatikan pendidikannya dan lainnya.
Bagaimana PT bisa terlibat dalam pembangunan daerah mengingat potensi berbeda-beda?
Peran PT yang utama adalah berkolaborasi di daerahnya. Jadi, misalnya, di satu tempat ada industri apa. Pengembangan industri itu jadi tanggung jawab universitas di daerah tersebut. PT mengerahkan segala daya upaya membimbing, membina, baik industri maupun UMKM di sekitar itu. FRI sendiri segera mendorong dengan membuat MoU dengan kementerian agar ini bisa diimplementasikan oleh para rektor. Di sisi lain, untuk MBKM itu paling cocok, paling tepat dengan industri sekitar. UMKM memerlukan kepakaran kita agar bisa berkembang.
Saat ini, kualitas antar-PT masih ada kesenjangan. Menurut Bapak, bagaimana upaya mengatasi?
Memang, PT berbeda-beda kualitasnya. Bahkan semakin ke bawah, tingkat kualitasnya jumlah PT semakin banyak. Kita bisa membangun suatu aktivitas untuk menguatkannya. Pemerintah memang dulu sudah punya program-program PT asuh. UGM pernah beberapa kali menjadi bapak asuh dari PT yang membutuhkan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!