Malam Satu Suro, Kapan dan Apa Maknanya bagi Masyarakat Jawa?
📅 Senin, 08 Jun 2026, 14:40 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: Pemprov DIY
Satu Suro, atau tanggal satu bulan Suro merupakan awal tahun dalam penanggalan Jawa, bertepatan dengan satu Muharam atau Tahun Baru Islam dalam kalender Hijriyah. Tahun ini dalam kalender Masehi, satu Suro jatuh pada hari Selasa tanggal 16 Juni.
Nama Suro berasal dari kata Asyura dalam bahasa Arab, yang berarti “sepuluh”. Dalam konteks Islam, Asyura merujuk pada tanggal 10 Muharram, yang memiliki keutamaan tersendiri. Namun dalam pelafalan masyarakat Jawa, kata ini berubah menjadi “Suro” dan digunakan sebagai nama bulan pertama dalam kalender Jawa-Islam.
Perayaan malam Satu Suro pertama kali digagas oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada 8 Juli 1633 M, sebagai bagian dari penggabungan sistem penanggalan Saka dan Hijriah. Tujuannya untuk menyatukan masyarakat Jawa dari berbagai latar belakang keyakinan, baik santri maupun abangan, dalam satu sistem waktu dan budaya yang harmonis.
Ritual sakral Malam Satu Suro digelar tak hanya untuk merayakan awal tahun, tetapi juga mengajak untuk menyelami diri, mengolah batin, dan menyatukan langkah dalam kesunyian.
Di Yogyakarta, peringatan malam Satu Suro dilestarikan oleh dua entitas budaya yakni Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman. Kedua institusi ini memiliki tradisi tersendiri yang sarat nilai historis dan spiritual.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut keterangan di situs web Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, malam satu Suro tidak boleh diperingati dengan pesta dan perayaan besar. Bukan karena larangan tegas, melainkan karena kesadaran akan nilai-nilai laku prihatin.
Dalam tradisi Kejawen, malam Satu Suro adalah saatnya untuk menarik diri dari hiruk-pikuk dunia, membersihkan pusaka, berjalan dalam sunyi, menyantap bubur sederhana, dan memohon keselamatan.
Di Keraton Yogyakarta, ritual Jamasan Pusaka menjadi pembuka. Semua benda sakral seperti tosan aji, kereta, dan gamelan dicuci, dimandikan dengan penuh khidmat. Sebuah penghormatan kepada leluhur, sekaligus pengingat akan tanggung jawab menjaga warisan.
Malam harinya, orang-orang berkumpul untuk mengikuti ritual Mubeng Beteng, berkeliling benteng keraton sejauh 4 kilometer tanpa alas kaki, tanpa suara, dalam suasana Tapa Bisu. Tak boleh bicara, tak boleh tertawa. Sebuah perjalanan lahir batin, menelusuri waktu sambil menunduk pada semesta.
Di Pura Pakualaman, tradisi serupa juga dilakoni, yakni ritual Lampah Ratri, mengitari wilayah kadipaten dalam gelap, para peserta menyatukan niat untuk memohon restu dan kekuatan menghadapi tahun baru.
Di akhir malam yang panjang, ada semangkuk Bubur Suran atau Bubur Suro. Bubur putih gurih manis, dengan tujuh jenis kacang, melambangkan hari-hari dalam seminggu. Dalam setiap sendoknya, terselip harapan akan keseimbangan dan rasa syukur yang tak putus.
Di Surakarta, dua pusat budaya yakni Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, juga digelar tradisi malam Satu Suro dengan kekhasannya masing-masing.
Ritual Jamasan Pusaka atau penyucian benda-benda pusaka keraton dan pura juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan upaya melestarikan warisan budaya.
Lalu, kirab malam Satu Suro dan kebo Bule, salah satu yang paling menarik perhatian di Solo yang dilakukan oleh Keraton Kasunanan. Prosesi kirab ini melibatkan arak-arakan Kebo Bule (kerbau putih) yang diyakini membawa tuah dan perlindungan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!