Kampus Kelola Tambang Merupakan Ironi bagi Kampus Itu Sendiri
📅 Rabu, 12 Feb 2025, 03:06 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Antara
JAKARTA - Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza, menilai rencana kampus mengelola tambang merupakan ironi bagi tujuan kampus itu sendiri. Menurutnya, banyak kampus mencitrakan diri dengan narasi SDGs dan GreenCampusbahkan berlomba masuk dalam peringkat kampus yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dan green metric.
Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza. (Foto: M. Ma'rup)
“Namun,jikakampus yang sama justru terlibat dalam industri ekstraktif yang merusak lingkungan, maka itu adalah sebuah ironi besar. Apalagi kampus diajak mendukung target Net Zero 2060,” ujar Akbar dalam diskusi virtual bertajuk “Timang-Timbang Kampusku Sayang”, Selasa (11/2).
Dia menjelaskan, kebijakan tersebut akan menjadikan suasana kampus terpecah dalam dua kutub antara yang mendukung dan yang menolak. Menurutnya, dalam isu kampus dan legitimasi pertambangan ini ada benturan antara kompetensi, moralitas, dan krisis identitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Secara umum, Forum Rektor Indonesia cenderung mendukung, sedangkan Majelis Dewan Guru Besar di beberapa kampus menolak,” jelasnya.
Akbar menilai, rencana ini akan membuat akademisi di lingkungan kampus digunakan sebagai alat legitimasi moral dan intelektual bagi industri tambang. Sementara dalam kenyataan, pengelolaan tambang bukan hanya soal modal kapital. “Ada sejumlah kompetensi teknis yang tidak dimiliki oleh seluruh akademisi,” katanya.
Biaya Besar
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Anggota Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Kutai Timur,Zulfatun Mahmudah memastikan kampus akan melakukan blunder besar bila nekad tetap ingin mengelola tambang. Menurutnya, sektor pertambangan membutuhkan modal awal yang sangat besar untuk melakukan eksplorasi dan ekstraktif.
Zulfatun menyebut kampus juga berhadapan dengan risiko yang lain yaitu kehancuran reputasi sebab tidak independen karena tersandera kepentingan bisnis. Menurutnya, para pimpinan perguruan tinggi sebaiknya memperkuat perannya dalam riset, inovasi teknologi, atau pendidikan pertambangan yang berkelanjutan, bukan malah menjadi pelaku bisnis tambang itu sendiri. ruf/S-2
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!