Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Awal Mula Munculnya Rasisme dan Diskriminasi Warna Kulit

📅 Minggu, 19 Mar 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Awal Mula Munculnya Rasisme dan Diskriminasi Warna Kulit Doc: The Conversation/Freepik
Ket. Seorang anak laki-laki mengikuti sebuah aksi protes.

Irawan Santoso Suryo Basuki, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Desember lalu, Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, meminta maaf atas praktik perbudakan yang dilakukan negaranya di masa lalu dan menyebutnya sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan". Salah satu contoh perbudakannya adalah ketika Belanda memperdagangkan sebanyak 600.000 orang Afrika ke benua Amerika pada tahun 1814.

Kejahatan yang pernah dilakukan Belanda selama 250 tahun itu salah satunya dilatarbelakangi oleh kentalnya keyakinan akan konsep ras yang membagi dan membedakan manusia ke dalam kelompok-kelompok secara hierarkis. Dalam konsep ini, ada kelompok "si putih" yang membangun secara sistemik struktur yang menyubordinasi kelompok lainnya melalui serangkaian hak istimewa.

Konsepsi ini membentuk pola interaksi yang timpang. Kelompok kulit putih merasa berhak mengatur kehidupan kelompok lain, termasuk menjadikan mereka sebagai komoditas.

Sampai sekarang, ketimpangan ini masih terjadi di banyak tempat dalam berbagai bentuk diskriminasi. Gerakan sosial seperti Black Lives Matter, misalnya, merupakan salah satu reaksi paling nyata dari konstruksi ras.

Sejarah Munculnya "Kulit Putih" dan "Kulit Hitam"

Pada mulanya, orang-orang Eropa tidak pernah mengklaim diri mereka sebagai kulit putih (Whites). Tidak pula melihat ke-putih-an (whiteness) mereka sebagai nilai lebih.

Kata "putih" awalnya ditujukan kepada orang-orang Eropa dan pertama kali digunakan oleh Thomas Middleton dalam naskah drama The Triumph of Truth yang dipentaskan pada awal abad ke-15. Drama ini menceritakan seorang raja di Afrika yang sedang berada di tengah orang-orang Inggris dan berujar, "Saya melihat keheranan di wajah orang-orang kulit putih ini".

Pada era sebelum pementasan itu, karakter yang berkulit gelap digambarkan dengan ciri fisiknya seperti "kehitaman" atau "coklat keabu-abuan". Akan tetapi, deskripsi ini tidak pernah dimaksudkan untuk membedakan maupun menganggap mereka lebih rendah dari orang kulit putih. Deskripsi kulit hitam pun merujuk ke banyak kelompok, seperti orang-orang Spanyol, Arab, dan India.

Perbedaan warna kulit, yang menjadi dasar pembedaan ras, adalah kenyataan faktual. Hanya saja, konsep ras sendiri sebenarnya tidak berangkat dari realitas biologis itu. Ras adalah sebuah ide, bukan fakta.

Geraldine Heng, profesor sejarah dari University of Texas, mengatakan bahwa ada sebuah proses yang disebut race-making (pembentukan ras).

Proses inilah yang berujung pada praktik dan tekanan untuk mengonstruksi identitas manusia, menjadikan adanya tingkat yang lebih tinggi pada suatu kelompok manusia dibanding kelompok manusia lainnya. Singkatnya, ras adalah sesuatu yang dibayangkan, diidentifikasi, dan diinstitusionalkan oleh kekuasaan.

Menurut Kwame Anthony Appiah, profesor filsafat dan hukum dari New York University, ras adalah hasil konstruksi dari biologisasi (biologizing) budaya dan atau ideologi, bukan sebuah ide yang saintifik.

Mengapa "Putih"?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ruang belajar anak di bantaran Ciliwung

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Ruang belajar anak di banta...

Wisata edukasi petik sayur

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Wisata edukasi petik sayur
Olahraga
Petenis Top Dunia Pemanasan...

Festival dolanan bocah

46 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Festival dolanan bocah

Upacara adat Ke-18 Ngertakeun Bumi Lamba

46 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Upacara adat Ke-18 Ngertake...

Kunjungan kerja Wapres di Asmat

56 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Kunjungan kerja Wapres di A...
Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.