Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bunga Pinjaman Bulog Dipangkas! Dari 8 Jadi 5 Persen, Ini Dampaknya ke Harga Beras

30 Kamis, 06 Agu 2026, 13:58 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bunga Pinjaman Bulog Dipangkas! Dari 8 Jadi 5 Persen, Ini Dampaknya ke Harga Beras Bunga Pinjaman Bulog Dipangkas! Dari 8 Jadi 5 Persen, Ini Dampaknya ke Harga Beras Doc: istimewa
Ket. Hingga awal Agustus 2026, realisasi penyerapan hasil produksi petani dalam negeri telah melampaui 3,5 juta ton setara beras atau mendekati target 4 juta ton sepanjang tahun

JAKARTA – Hingga awal Agustus 2026, realisasi penyerapan hasil produksi petani dalam negeri telah melampaui 3,5 juta ton setara beras atau mendekati target 4 juta ton sepanjang tahun. Capaian ini semakin memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebagai instrumen menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan.

Capaian itu juga diperkuat melalui kebijakan baru Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang menetapkan formula pembiayaan penugasan Perum Bulog secara lebih terukur melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 3 Tahun 2026.

Dalam beleid tersebut ditetapkan nominal margin penugasan Perum BULOG dihitung dari total biaya pengadaan beras dalam negeri dan biaya kemasan setelah dikurangi hasil penjualan produk samping. Nilai tersebut kemudian dibagi dengan kuantum pengadaan setara beras untuk mendapatkan margin per kilogram, yang selanjutnya dikalikan 7 persen sebagai dasar penetapan nominal margin.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan penyesuaian margin penugasan menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap Bulog dalam menjalankan penugasan menjaga CBP sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan.

"Intinya dengan diberikan kenaikan margin fee jadi 7 persen, itu merupakan penghargaan dari pemerintah. Ini kan reward dari pemerintah karena Bulog mendukung keberhasilan pemerintah memperkuat swasembada pangan," ujar Rizal dikutip pada Kamis (6/8).

Penyesuaian margin turut diikuti skema pembiayaan yang lebih efisien sehingga biaya operasional penugasan menjadi lebih ringan. Dengan dukungan tersebut, Bulog memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan penyerapan gabah petani, menjaga kualitas stok, dan memastikan CBP.

"Suku bunga pinjaman bank turun dari 8 persen menjadi 5 persen. Dimana dari 5 persen itu, 3 persen diantaranya dicicil Bulog, sedangkan yang 2 persen disubsidi oleh pemerintah. Itu kan syukur sekali, kita bersyukur sekali," ungkap Rizal.

Rizal memastikan tambahan margin tersebut akan dikembalikan kepada masyarakat melalui peningkatan kualitas pelayanan dan mutu beras yang disalurkan Bulog. Pemeliharaan stok, perawatan beras, hingga dukungan operasional gudang akan terus diperkuat agar masyarakat menerima beras CBP.

"Kami akan meningkatkan pemeliharaan dan perawatan beras-beras Bulog sehingga beras yang disalurkan kepada rakyat adalah beras yang terbaik dan berkualitas," pungkasnya.

Adapun regulasi ini mengatur penghitungan margin penugasan berdasarkan biaya riil pengadaan dalam negeri, biaya kemasan, hasil penjualan produk samping, dan kuantum pengadaan setara beras. Mekanisme itu sebelumnya belum diatur dalam Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 7 Tahun 2025. 

Sementara itu, nominal margin ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional berdasarkan hasil reviu aparat pengawasan pemerintah. Penerapan mekanisme baru ditujukan untuk menjaga ketersediaan stok CBP yang aman dan berkualitas, memperkuat stabilisasi harga beras, melindungi petani melalui pengadaan dalam negeri, serta mendukung penguatan infrastruktur logistik pangan.

Sebelumnya, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan nasional berada dalam keadaan aman. Menurutnya, stok yang tersedia di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) ditambah CBP yang dikelola Perum Bulog telah mencukupi kebutuhan nasional hingga sekitar 10 bulan ke depan.

"Kami laporkan pangan kita aman. Standing crop stock kita di Horeka dan standing crop tambah bulog, itu totalnya 26 juta ton, itu setara 10 bulan. Kalau 10 bulan mulai dari sekarang, Agustus, September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, itu melampaui tahun depan, Maret sudah paling puncak (panen),” ujar Kepala Bapanas Amran di Jakarta, Rabu (5/8).

Kepala Bapanas Amran menambahkan, posisi stok pangan saat ini terpantau lebih solid dibandingkan beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan, mengantisipasi gejolak, dan memastikan berbagai program pangan tetap berjalan.

"Jadi sudah overlap, aman, insya Allah. Stok kita dulu 2023, kalau tidak salah itu 1 jutaan stok kita. Bahkan pernah 500 ribu stok kita di gudang, sekarang 5 juta, jadi insya Allah aman," pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Daerah
Panen! Ikan Layur Jadi Anda...

Ujian pendidikan kesetaraan paket C

53 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Ujian pendidikan kesetaraan...
Nasional
Rakornas penanganan karhutl...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
KPK Ungkap Negara Rugi Triliunan Rupiah akibat Kasus Cukai PT Djarum

KPK Ungkap Negara Rugi Triliunan Rupiah akibat Kasus Cukai PT Djarum

30 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.