Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengenang 100 Jam Penataran P4 Pancasila

📅 Senin, 01 Jun 2026, 08:28 WIB | Oleh:
Mengenang 100 Jam Penataran P4 Pancasila Doc: BPIP
Ket. Lambang Negara Garuda Pancasila

Jakarta - Koran Jakarta : Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Sejak tahun 2016, melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, pemerintah menetapkan hari tersebut sebagai hari libur nasional. Pemerintah pun mengimbau seluruh instansi, dari pusat hingga perwakilan di luar negeri, termasuk BUMN dan BUMD, untuk menggelar upacara bendera. Tujuannya mulia: agar seluruh komponen bangsa memperingati Pancasila sebagai ideologi negara.



Namun, hari ini bertepatan dengan 1 Juni 2026 saya bertanya-tanya, apakah Pancasila cukup hanya dipahami dengan mengikuti upacara, atau Pancasila benar-benar telah melekat dalam perilaku bangsa?

Mengenang Masa Penataran Pancasila 100 Jam

Bagi saya pribadi, Pancasila bukanlah sekadar seremoni. Saya termasuk generasi yang mengikuti Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) pola 100 jam di masa lalu. Program indoktrinasi ideologi negara khas era Orde Baru ini tidak main-main. Selama dua minggu, dari pukul 07.00 hingga 17.00, kami diasramakan, digembleng fisik dan mental, serta dilatih kepekaan sebagai anak bangsa untuk mencintai tanah air.



Pengalaman itu saya jalani sejak sekolah dasar, SMP, hingga SMA. Seratus jam penuh. Di sanalah saya sungguh-sungguh menghayati bahwa Pancasila adalah dasar negara yang terbaik. Ia disusun secara brilian untuk menjadi pandangan hidup bangsa yang majemuk.

Saya belajar bahwa Pancasila sangat Islami, sangat Kristiani, sangat Buddha, Hindu, Konghucu, bahkan seorang ateis pun tetap terfasilitasi nilai-nilai kemanusiaannya. Di dalamnya terangkum demokrasi, namun juga bisa menampung kritik terhadap komunisme, fasisme, liberalisme, hingga kapitalisme. Pancasila adalah paket komplit. Ia pas dan cocok diterapkan dalam berbagai situasi dan kondisi. Toleransi adalah ciri utamanya.



Dulu, meski tidak ada peringatan Hari Lahir Pancasila yang meriah, kami justru hidup rukun. Kami hafal dan memahami tidak hanya lima sila, tapi hingga 36 butir pengamalan Pancasila. Kami benar-benar merasakan makna Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun, semua kerukunan yang terbina sejak SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa itu seakan sirna ketika politik identitas mulai bergaung. Rasanya, kini orang-orang lebih sibuk meneriakkan "Saya Indonesia, Saya Pancasila" di media sosial atau upacara, tapi lupa mengamalkannya. Akibat politik identitas yang diadu domba oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab, rakyat pun terbelah. Mulai saling curiga antarkelompok, meributkan ras dan suku, serta menghujat keyakinan agama lain.



Saat ini, rasanya orang tak perlu lagi hapal dan memahami sila demi sila Pancasila. Cukup teriak-teriak jargon kebangsaan. Padahal, tanpa penghayatan, Pancasila hanya akan menjadi monumen usang yang diperingati setahun sekali, lalu dilupakan lagi sehari setelahnya.



Saya bersyukur pernah menjalani 100 jam penataran yang keras itu. Karena dari sanalah saya tahu: Pancasila bukan hanya untuk diupacarakan atau sekedar diucapkan, melainkan untuk dihidupkan dalam setiap desah napas kebangsaan kita.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Serius Ada Cadangan Beras 4,8 Juta Ton? Kok Beras Tetap Mahal

48 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Serius Ada Cadangan Beras 4...

Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk Program Berani

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk...

Kasus Kapal Virgo, Empat Tersangka Ditetapkan

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kasus Kapal Virgo, Empat Te...
Advertisement
Impor Solar Indonesia Resmi Berhenti, Ternyata Ini Dampak Kebijakan B50

Impor Solar Indonesia Resmi Berhenti, Ternyata Ini Dampak Kebijakan B50

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.