Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tokoh AI Dunia Peringatkan Umat Manusia Mulai Kehilangan Kendali atas AI

📅 Jumat, 18 Sep 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tokoh AI Dunia Peringatkan Umat Manusia Mulai Kehilangan Kendali atas AI Doc: AFP/ANDREJ IVANOV
Ket. Ilmuwan komputer Kanada, Yoshua Bengio di kantor Law Zero di Montreal, Quebec.

Montreal, Kanada - Ilmuwan komputer Kanada Yoshua Bengio memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) berlangsung terlalu cepat dan mulai membuat manusia kehilangan kendali. Ia menyerukan penguatan pengamanan serta tata kelola internasional untuk mencegah teknologi tersebut menimbulkan risiko besar bagi masyarakat.

Bengio, salah satu pelopor AI yang meraih Penghargaan Turing 2018 bersama Geoffrey Hinton, mengatakan perkembangan AI generatif dan agen AI yang mampu menjalankan tugas secara mandiri telah memasuki tahap yang membutuhkan perhatian serius.

“Ada alasan mengapa perusahaan-perusahaan mengatakan ini berjalan terlalu cepat, bahwa kita kehilangan kendali,” kata Bengio.

Ia mengatakan kekhawatiran tersebut bukan hal baru bagi para peneliti AI. “Orang-orang seperti saya sudah lama mengharapkan ini,” ujarnya.

Peringatan itu muncul setelah OpenAI mengungkap bahwa agen AI mereka pada Juli melakukan sejumlah pembobolan tanpa izin terhadap platform pengembangan perangkat lunak Hugging Face. Menurut Bengio, kemampuan agen AI untuk bertindak secara mandiri dapat meningkatkan risiko keamanan siber.

Ia memperingatkan agen AI pada masa mendatang berpotensi “menembus penghalang keamanan siber dan memasuki perusahaan mana pun”.

Bengio mendirikan LawZero pada 2025, organisasi yang berfokus pada pengembangan AI tingkat lanjut yang dirancang agar dapat dipercaya dan aman. Organisasi tersebut mendapat pendanaan sekitar 300 juta dolar Kanada dari Kanada dan Jerman.

Menurut Bengio, persoalan AI tidak hanya berkaitan dengan keamanan siber. Agen AI juga dapat membangun hubungan secara individual dan memengaruhi manusia agar melakukan tindakan yang sesuai dengan tujuan AI, tetapi belum tentu sejalan dengan kepentingan masyarakat.

Kondisi tersebut, katanya, dapat berdampak terhadap demokrasi. Bahkan, dalam skenario ekstrem, AI dapat mengurangi ketergantungan pada manusia untuk menjalankan berbagai aktivitas di dunia nyata.

“AI mungkin bahkan tidak membutuhkan manusia lagi untuk melakukan hal-hal nyata di dunia fisik,” katanya.

Bengio mengingatkan bahwa risiko AI tidak selalu harus berupa skenario kehancuran umat manusia. Gangguan terhadap sektor penting seperti sistem perbankan saja sudah dapat menimbulkan dampak yang “sangat, sangat serius”.

Karena itu, ia menilai pengembangan dan penggunaan AI perlu dibahas melalui kerja sama internasional, sebagaimana masyarakat internasional mengatur teknologi berisiko tinggi lainnya.

“Oleh karena itu, komunitas internasional perlu memahami kekuatan yang kita bawa ke dunia, dan kekuatan itu harus dikelola, harus diatur melalui lembaga, perjanjian, dan perlindungan demokrasi.”

Seruan PBB

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Impor Pelumas RI Tembus Ribuan Ton, Menperin Resmikan Pabrik Raksasa Shell, Libatkan 50 Vendor Lokal
    Kehadiran fasilitas produksi berkapasitas 12.000 ton per tahun ...
  • Pameran Fi Asia Indonesia 2026 Perluas Akses Industri terhadap Teknologi Pangan Global
    Ulasan yang sangat mencerahkan terutama pada pandangan Dr. ...
  • Wali Kota: Pemkot Bandung Dorong Industri Sepatu Perluas Pasar Ekspor
    Langkah strategis Pemkot Bandung menyoroti urgensi Surat Keterangan ...
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Orang kepercayaan Menterinya aja kena OTT KPK ...
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
Olahraga
Gunawan Membuka Duel Piala ...
Olahraga
Koleksi Jersi Timnas Makin ...
Advertisement
Kisah Si Doel Bukan Hanya soal Jakarta, Tapi Tentang Bagaimana Masyarakat Betawi Tetap Miliki Tempat

Kisah Si Doel Bukan Hanya soal Jakarta, Tapi Tentang Bagaimana Masyarakat Betawi Tetap Miliki Tempat

17 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.