Mengukur Risiko dan Kesiapan dalam Menghadapi Bencana Geologi
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiBergeser ke gempa. Bisa dijelaskan secara detail kejadian gempa M7,7 di Timur Laut Nagekeo?
Gempa bumi terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04.58.23 WIB. Berdasarkan data BMKG, episentrum berada pada koordinat 8,33 LS-121,32 BT di Timur Laut Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan magnitudo awal M7,0 dan kedalaman 10 kilometer. Parameter gempa kemudian diperbarui menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer.
Data dari GeoForschungsZentrum atau GFZ Jerman mencatat episentrum pada koordinat 8,375 LS-121,545 BT dengan magnitudo M6,25 pada kedalaman 10 kilometer.
Mengapa guncangan gempa ini terasa sampai ke Bali dan Sulawesi Selatan?
Lokasi episenter berada di laut. Daerah terdekat memiliki morfologi yang beragam, mulai dari dataran, berombak, bergelombang, perbukitan, hingga pegunungan. Wilayah tersebut tersusun atas batuan gunung api berumur Tersier serta batuan sedimen berumur Kuarter.
Kondisi geologi ini menjadi salah satu faktor yang memperkuat guncangan di permukaan. Batuan yang telah mengalami pelapukan maupun sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi.
Berdasarkan data tapak lokal Vs30, daerah sekitar episenter terklasifikasi dalam Kelas Tanah C, Kelas Tanah D, dan Kelas Tanah E. Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti potensi guncangan gempa bumi di area tersebut terasa lebih intens.
Apa penyebab utama gempa tektonik ini?
Berdasarkan parameter sumber, gempa tersebut memiliki mekanisme sesar naik yang berasosiasi dengan Zona Sesar Naik Busur Belakang Flores atau _Flores Back Arc Thrust_. Zona ini memang merupakan salah satu sumber gempa aktif di wilayah Nusa Tenggara. Berdasarkan peta zonasi, daerah tersebut berada dalam Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah hingga Tinggi.
Apakah kondisi ini pernah terjadi sebelumnya?
Sesar naik busur belakang Flores, tercatat pernah menyebabkan gempa bumi merusak dan beberapa diantaranya memicu tsunami. Gempa bumi yang diikuti tsunami diantaranya gempa bumi Flores Utara pada tahun 1961 dan gempa bumi Flores tahun 1992. Gempa bumi yang merusak lainnya melanda Pulau Flores diantaranya gempa bumi Solor pada tahun 1982 dan Gempa bumi Manggarai tahun 2003.
Seberapa kuat guncangan yang tercatat di lapangan?
Berdasarkan informasi BMKG, intensitas guncangan tercatat IV-V MMI di Ruteng, V MMI di Kota Bima dan Kabupaten Dompu, serta IV-V MMI di Ende, Labuan Bajo, Maumere, dan Sumba Timur. Artinya guncangan cukup kuat dan berpotensi menimbulkan kerusakan pada bangunan yang tidak tahan gempa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!