Bahaya, Skor RI Jauh dari Ambang untuk Lolos “Middle Income Trap”
📅 Kamis, 10 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Indonesia masih relatif jauh dari ambang untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap), dengan skor probabilitas sebesar 0,44 dibandingkan ambang 0,6 dalam kajian Asian Development Bank Institute (ADBI).
Hal itu disampaikan CEO ADBI, Bambang Brodjonegoro dalam konferensi bersama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan/PPN (Bappenas) di Jakarta, Rabu, saat memaparkan hasil analisis berbasis machine learning yang mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kemampuan suatu negara mencapai status berpendapatan tinggi.
Analisis tersebut membandingkan dua model machine learning, yakni XGBoost dan Elastic Net.
Hasil kedua model menunjukkan bahwa transformasi struktural, kualitas institusi, dan kelayakan politik merupakan tiga pilar dengan kontribusi terbesar terhadap kekuatan prediktif kemampuan suatu negara keluar dari middle income trap. Ketiga pilar tersebut menyumbang lebih dari 73 persen kekuatan prediktif dalam model.
Selain ketiga pilar tersebut, analisis ADBI juga mencakup modal manusia (human capital), inovasi (innovation), kapasitas fiskal (fiscal capacity), dan kapasitas negara (state capacity).
“Sayangnya bagi Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, serta Kamboja, Myanmar, India, dan negara-negara lainnya, masih menghadapi tantangan karena probabilitas keluar dari middle income trap masih relatif jauh dari ambang batas,” kata Bambang.
Bambang mengatakan skor Indonesia sebesar 0,44 masih berada di bawah sejumlah negara Asia lainnya. Thailand mencatat skor 0,56, sedangkan Vietnam mencapai 0,50.
“Jadi, saya dapat mengatakan bahwa negara-negara tersebut berada dalam posisi borderline. Ada kemungkinan untuk keluar dari middle income trap, tetapi belum dapat dipastikan,” jelasnya.
Sementara itu, negara Asia lainnya seperti Jepang, Singapura, dan Korea Selatan mencatat skor probabilitas keluar dari middle income trap yang sangat tinggi, masing-masing sebesar 0,97 lalu 0,95 dan 0,91, sebelum beralih menjadi negara berpendapatan tinggi.
Indonesia kata Bambang perlu memperkuat kemampuan domestik dan meningkatkan produktivitas untuk meningkatkan nilai tambah domestik sebagai bagian dari upaya keluar dari middle-income trap.
Menurut dia, modal dasar Indonesia selama ini bertumpu pada sumber daya alam.
Oleh karena itu, ia menilai Indonesia perlu memperkuat basis sumber daya tersebut melalui pendalaman manufaktur, pengembangan pemasok domestik, penarikan investasi asing langsung (FDI) yang berorientasi pada teknologi, peningkatan keterampilan dan inovasi, serta partisipasi dalam integrasi rantai nilai regional.
Selain itu, konsistensi kebijakan juga dinilai penting untuk mendukung transformasi struktural Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy menilai Indonesia perlu bertransisi dengan mengubah model pertumbuhan ekonomi yang selama ini bertumpu pada tenaga kerja murah dan sumber daya alam agar bisa keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!