Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Investasi RI Tak Efisien: Modal Besar, Hasil Minim

📅 Jumat, 11 Sep 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Investasi RI Tak Efisien: Modal Besar, Hasil Minim Doc: istimewa
Ket. Produktivitas Modal I Fokus Investasi ke Depan Perlu Digser dari Besaran Nilai ke Kualitas

Besarnya investasi harus diikuti peningkatan efisiensi agar modal yang masuk mampu mendorong output dan menciptakan nilai ekonomi lebih besar.

JAKARTA – Investasi yang masuk belum mampu memberikan dorongan optimal terhadap pertumbuhan ekonomi. Data pemerintah mencatat Incremental Capital Output Ratio (ICOR) masih tinggi Indonesia sekitar 6,47 pada 2023–2024 atau lebih tinggi dibanding Malaysia 4,5, Thailand 4,4, Vietnam 4,6, dan Filipina 3,7.

Tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) menunjukkan bahwa persoalan investasi Indonesia bukan semata-mata soal seberapa besar modal yang berhasil dihimpun, tetapi seberapa efektif modal tersebut dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini menjadi sinyal bahwa investasi masih menghadapi berbagai hambatan struktural, mulai dari biaya logistik, regulasi, hingga rendahnya produktivitas dan keterkaitan antarsektor. Artinya, mengejar investasi dalam jumlah besar tanpa memperbaiki efisiensinya berisiko menghasilkan pertumbuhan yang mahal.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menegaskan efektivitas investasi lebih penting dibandingkan sekadar mengejar kuantitas. “Efektivitas investasi diukur dari kemampuan investasi menghasilkan tambahan perekonomian dan penyerapan tenaga kerja yang optimal,” ujarnya di Jakarta, Kamis (10/9), merespons diskusi yang digelar Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/ Bappenas) bersama Asian Development Bank Institute (ADBI) di Jakarta, Rabu (9/9).

Huda menjelaskan salah satu ukuran efektivitas investasi yang umum digunakan adalah ICOR yang menggambarkan besarnya investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan tambahan 1 persen pertumbuhan ekonomi. Semakin tinggi ICOR, semakin tidak efektif dan tidak efisien investasi dalam mendorong perekonomian, sedangkan semakin rendah ICOR menunjukkan investasi yang semakin efisien.

Menurut Huda, tingginya ICOR masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia karena nilainya lebih tinggi dibandingkan Thailand, Vietnam, dan Malaysia. “Kondisi tersebut berdampak pada kinerja industri yang kurang baik serta rendahnya penyerapan tenaga kerja formal,” tegasnya.

Huda menilai tanpa perbaikan efisiensi investasi, target pertumbuhan ekonomi tinggi akan sulit dicapai secara berkelanjutan. Pemerintah perlu memastikan setiap rupiah investasi, baik domestik maupun asing, masuk ke sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja formal.

“Karena itu, fokus investasi ke depan tidak hanya mengejar angka investasi yang besar, tetapi memastikan investasi tersebut efektif dan efisien,” pungkasnya.

Dorong Produktivitas

Sebelumnya, dalam diskusi yang digelar Kementerian PPN/ Bappenas bersama ADBI, Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kementerian Keuangan, Noor Faisal Achmad mengatakan tantangan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bukan hanya meningkatkan volume investasi, tetapi memastikan investasi mampu mendorong produktivitas. “Investasi tetap penting menopang pertumbuhan, namun tidak cukup untuk menghasilkan pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan sehingga perlu diikuti peningkatan produktivitas dan efisiensi agar modal menghasilkan nilai tambah lebih besar,” katanya.

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendi Manilet menilai rasio investasi terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang bertahan sekitar 30 persen, sementara pertumbuhan ekonomi masih berkisar 5 persen, menunjukkan tambahan modal belum menghasilkan output secara optimal. Hal itu tercermin dari ICOR yang masih relatif tinggi sekitar 6, yang berarti Indonesia membutuhkan modal besar untuk menghasilkan tambahan output, sementara sejumlah negara ASEAN lebih efisien.

Menurut Yusuf, persoalan utama bukan kekurangan investasi, melainkan kualitas investasi dan keterkaitannya dengan ekonomi domestik. Banyak investasi masih terkonsentrasi pada sektor padat modal dan bernilai tambah relatif rendah.

“Hilirisasi, misalnya, memiliki nilai investasi besar, tetapi sebagian proyek masih terkonsentrasi pada mineral tertentu, menyerap relatif sedikit tenaga kerja, serta belum selalu menghasilkan transfer teknologi dan rantai pasok domestik yang kuat,” jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
Benarkah Ada Sesar Aktif di Surabaya? Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS

Benarkah Ada Sesar Aktif di Surabaya? Ini Penjelasan Pakar Geologi ITS

10 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.