Kemenag Sebut Tradisi Konghucu Ming Qi Penghormatan Leluhur dan Jadi Tanggung Jawab ke Generasi Muda
📅 Rabu, 09 Sep 2026, 06:17 WIB | Oleh: SriyonoMANADO - Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Utara Ulyas Taha mengatakan tradisi Konghucu Ming Qi merupakan penghormatan kepada leluhur dan tanggung jawab kepada generasi yang akan datang.
"Ming Qi merupakan simbol bakti dalam Tradisi Khonghucu membakar kertas emas, kertas perak, atau berbagai bentuk perlengkapan replika," kata Ulyas melalui pesan tertulis di Manado, Selasa (8/9).
Dia mengatakan tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan membakar kertas, melainkan memiliki latar belakang historis, filosofis, dan etis yang dikenal sebagai Ming Qi.
Dalam perkembangan, katanya, bentuk Ming Qi juga hadir dalam praktik penghormatan kepada leluhur melalui berbagai perlengkapan simbolis yang kemudian dibakar setelah pelaksanaan sembahyang.
Ulyas menjelaskan esensi utamanya bukan terletak pada benda ataupun proses pembakaran, melainkan pada makna simbolis di baliknya.
Ming Qi dengan demikian memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan dapat menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, simbol, etika, dan penghormatan terhadap keluarga.
Dalam perspektif Konghucu, kata dia, penghormatan kepada leluhur bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan cara manusia mengingat dari mana ia berasal dan meneguhkan tanggung jawab moral kepada generasi yang akan datang.
Penyuluh Agama Konghucu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara Js Theresia Agnes Lasut menjelaskan Ming Qi tidak dapat dilepaskan dari prinsip utama ajaran Konghucu, terutama Ren, Xiao, dan Li.
“Ming Qi bukan sekadar benda yang dibakar setelah sembahyang, di dalamnya terdapat makna penghormatan, bakti, dan kasih kepada leluhur. Bentuknya memang simbolis, tetapi yang hendak diwujudkan adalah nilai Xiao atau bakti serta penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita,” jelas Tessa.
Ia mengatakan Ming Qi kemudian menjadi salah satu bentuk simbolisasi yang memungkinkan manusia mengekspresikan bakti kepada orang yang telah meninggal tanpa mengorbankan kehidupan manusia lain.
Sementara Kertas Perak dengan kertas timah berwarna perak di bagian tengah diperuntukkan bagi arwah leluhur, orang tua, kerabat yang telah wafat, maupun arwah umum.
Selain kertas emas dan perak, terdapat pula replika pakaian, uang, sepatu, sandal, bangunan, dan berbagai benda lainnya yang dibuat dari kertas atau karton. Perlengkapan tersebut umumnya dibakar setelah penutupan sembahyang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!