Dua Sayap Garuda Pengawal Indonesia: Ikhtiar Suci NU dan Muhammadiyah Menjaga Ibu Pertiwi
📅 Senin, 31 Agu 2026, 17:15 WIB | Oleh: AlfredMewakafkan tokoh
Menengok kiprah tokoh, NU dan Muhammadiyah juga sudah banyak yang "mewakafkan" tokoh-tokohnya untuk berkiprah dalam perjalanan bangsa ini.
Kalau Muhammadiyah memiliki tokoh besar dalam konteks perjuangan kemerdekaan RI, seperti Soekarno atau Jenderal Besar Soedirman, NU juga memiliki tokoh besar untuk bangsa ini, seperti KH Hasyim Asy'ari yang fenomenal dengan inisiatifnya dalam Resolusi Jihad pada 1945 dan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai pelopor strategi pergerakan nasional serta pendirian Laskar Hizbullah.
Pada masa setelah kemerdekaan, KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, cucu dari KH Hasyim Asy'ari menjadi tokoh pemikir pembaruan Islam yang disegani hingga ke level internasional, tokoh budaya, bahkan sebagai tokoh politik, hingga menjadi Presiden RI.
Sebagai hasil dari ikhtiar di bidang pendidikan, NU dan Muhammadiyah sama-sama memiliki peran dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas untuk kiprah yang lebih besar di masa mendatang.
Pada momen Muktamar Ke-35 NU, harapan baik yang disampaikan oleh saudara tua organisasi, yakni Muhammadiyah, tidak perlu dimaknai hanya sekedar basa-basi dari sesama pemimpin organisasi keagamaan besar.
Ucapan selamat dari Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir atas terpilihnya KH Miftahul Ahyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 adalah ekspresi sikap keindonesiaan tokoh agama yang menyejukkan dan menjadi modal bagi bangsa ini menyongsong masa depan yang lebih baik.
Harapan terhadap pemimpin baru PBNU hasil muktamar ke-35 di Jombang dapat meningkatkan ukhuwah dan kerja sama dengan seluruh ormas keagamaan dan kemasyarakatan, bermuara pada satu tujuan agung, yakni kemaslahatan umat dan bangsa.
Penguatan ukhuwah atau persaudaraan dan kolaborasi atau kerja sama antarkomponen bangsa akan menghadirkan kebaikan yang lebih luas bagi umat, masyarakat, dan bangsa Indonesia.
Ketika keduanya bekerja sama, hal itu tentu bukan hanya untuk kepentingan umat Islam di NU maupun Muhammadiyah, melainkan untuk seluruh umat dan bangsa.
Kedua organisasi ini dikenal sebagai kelompok mayoritas yang tidak hanya berpikir untuk kepentingan kelompok. Keduanya sama-sama sering tampil untuk mewujudkan Islam yang rahmatan lil 'alamiin atau Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ketika kedua organisasi itu kuat dan saling bekerja sama, maka kelompok minoritas juga ikut merasakan berada dalam pengayoman sebagai sesama warga bangsa.
Isu yang beraroma politis muncul terhadap Muktamar Ke-35 NU, termasuk barangkali untuk Muhammadiyah. Apalagi, ketika pada momen muktamar ini, NU memberikan kartu keanggotaan organisasi terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!