Cegah Kerugian, Karantina Jabar Gunakan Teknologi Molekuler eDNA Lacak Ikan Invasif
📅 Jumat, 28 Agu 2026, 01:05 WIB | Oleh: AlfredBANDUNG - Balai Karantina Indonesia Jawa Barat (Jabar) menginisiasi penerapan teknologi environmental DNA (eDNA) dan metabarcoding untuk mengidentifikasi jejak genetik biota di medium air, Kamis (27/8).
Inovasi pencegahan berbasis sains molekuler ini menggantikan metode penangkapan fisik konvensional guna meredam potensi ancaman Jenis Asing Bersifat Invasif (JABI) yang dapat merugikan sektor perikanan nasional hingga puluhan miliar dolar AS.
Teknologi pendeteksi dini berbasis jejak genetik tersebut menggeser metode deteksi konvensional tangkap fisik yang kerap menemui keterbatasan saat populasi spesies invasif masih minim atau berada di area perairan umum yang sulit dijangkau.
Kepala Karantina Jawa Barat Cahyono dalam keterangannya di Bandung, Kamis, menegaskan bahwa inovasi itu menandai pergeseran paradigma biosekuriti perairan Indonesia.
"Melalui pendekatan eDNA, kita tidak lagi harus menangkap fisik ikannya, melainkan membaca jejak genetik yang ditinggalkan oleh organisme tersebut di medium air. Ini adalah bentuk pergeseran paradigma dari biosekuriti reaktif menjadi pencegahan dini (early warning system) berbasis sains molekuler," ujar Cahyono.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggabungan eDNA dengan teknologi metabarcoding berbasis Next-Generation Sequencing (NGS) tersebut, lanjutnya, memungkinkan petugas laboratorium mengidentifikasi puluhan hingga ratusan jenis biota air secara simultan hanya dari satu sampel lingkungan.
Sistem tersebut ditargetkan untuk mengawasi jalur berisiko tinggi, seperti air pemberat kapal (ballast water) di pelabuhan utama, kompartemen pengangkutan perikanan, hingga sentra akuakultur.
Cahyono mengatakan pengadopsian teknologi molekuler tersebut memiliki nilai ekonomis yang amat strategis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan laporan Platform Kebijakan-Ilmu Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES) tahun 2023, kerugian ekonomi global akibat invasi spesies asing telah menembus 423 miliar dolar AS per tahun.
Dengan peringatan dini eDNA sejak fase awal introduksi, biaya penanganan atau eradikasi dampak invasi dapat ditekan hingga lebih dari 80 persen.
Langkah modernisasi tersebut sekaligus menyelaraskan biosekuriti Indonesia dengan tren pasar eDNA global yang diproyeksikan melonjak hingga 4,5 miliar dolar AS pada 2030.
Cahyono berharap penerapan eDNA dan metabarcoding itu menjadi fondasi kokoh perumusan kebijakan karantina berbasis bukti ilmiah (science-based policy) melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, demi menjaga kedaulatan biologis serta kelestarian ekosistem akuatik nusantara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!