Gila Sih Ini! AI Milik Anthropic, Claude bisa Retas Sistem OpenAI
📅 Minggu, 20 Sep 2026, 06:39 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Inovasi kecerdasan artifisial (AI) ternyata bisa membobol sistem perusahaan kecerdasan artifisial lainnya dan hal itu baru-baru ini terjadi setelah beberapa peneliti keamanan independen mencoba hal tersebut.
Dalam laporan TechCrunch, Jumat (18/9), dilaporkan sekelompok peneliti keamanan independen telah memanfaatkan AI buatan Anthropic yaitu Claude untuk membobol sistem milik OpenAI yang dikenal mempopulerkan tren AI lewat ChatGPT.
The Wall Street Journal menjadi yang pertama melaporkan ini dan menyebut para peneliti itu beranggotakan tiga orang berasal perusahaan rintisan bernama Hacktron AI.
Serangan Claude ke sistem OpenAI oleh Hacktron AI dilakukan sebagai bagian dari program berhadiah untuk penemuan celah keamanan (bug bounty) OpenAI.
Hacktron selanjutnya melaporkan temuan mereka kepada OpenAI, dan mendapatkan apresiasi sebesar 6.500 dolar AS (sekitar Rp115 jutaan).
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini menarik karena saat ini terdapat krisis kepercayaan terhadap perusahaan-perusahaan AI terutama terkait dengan keamanan siber.
Lebih lanjut, terkait dengan serangan Claude yang dirancang Hacktron AI ke sistem OpenAI ternyata mereka berhasil menggabungkan dua kerentanan kritis untuk mendapatkan akses ke beberapa akun ChatGPT karyawan OpenAI.
Kerentanan itu memberi mereka akses ke perangkat lunak perusahaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
OpenAI menyatakan telah menyelesaikan masalah yang ditemukan Hacktron AI dan memastikan tidak ada lagi kerentanan.
Insiden ini terjadi beberapa minggu setelah agen AI milik OpenAI diketahui juga sempat melakukan serangan pada sistem platform untuk berbagi model AI terbuka, Hugging Face, saat menjalani evaluasi keamanan.
Temuan demi temuan ini menggambarkan bagaimana teknologi siap pakai ternyata dapat digunakan untuk menemukan kerentanan bahkan pada infrastruktur perusahaan yang paling canggih sekalipun.
Pakar keamanan siber menyoroti hal ini dan menyebutkan situasi tersebut justru harus membuat siapa pun yang sudah terbiasa memanfaatkan AI tidak boleh lengah terhadap keamanan sibernya.
“Dengan biaya 200 dolar AS (sekitar Rp3,5 jutaan) per bulan, siapa pun dapat menggunakan alat-alat ini dan meretas perusahaan seperti OpenAI,” kat CEO perusahaan keamanan AI Gray Swan, Matt Fredrikson.
Matt lebih lanjut mengatakan,“Jika hal itu bisa terjadi pada mereka — dan saya rasa mereka tidak mengabaikan aspek keamanan siber akhir-akhir ini — hal itu bisa terjadi pada siapa pun.”
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!