Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun
📅 Senin, 24 Agu 2026, 08:48 WIB | Oleh: Marcellus WidiartoBANDUNG - Warna hijau mendominasi tubuhnya. Paruh dan kakinya merah terang, sementara garis hitam di sekitar mata menyerupai topeng. Panjang tubuhnya sekitar 32 sentimeter. Bagian kepala dan paruhnya yang merah mencolok membuatnya layak menyandang julukan “Si Paruh Gincu”.
Melihat burung itu secara langsung memang menghadirkan pemandangan yang memikat. Gerakannya lincah, sementara suara kicauannya terdengar nyaring. Perpaduan itu membuat siapa pun mudah jatuh hati.
Namun, keindahan tersebut berbanding terbalik dengan nasib yang kini dihadapinya.
Ekek Keling Sunda, yang juga dikenal sebagai Ekek-Geling Jawa, dengan nama latin Cissa thalassina, kini berada di ambang kepunahan. Burung endemik Jawa Barat itu bahkan disebut sudah tidak dapat ditemukan lagi di habitatnya di kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat.
Padahal, Si Paruh Gincu berpeluang menjadi salah satu maskot Jawa Barat, berdampingan dengan surili dan macan tutul. Sebab, burung ini merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan di Jawa Barat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN), Ekek Keling Sunda berstatus Kritis atau Critically Endangered. Hilangnya habitat akibat penebangan hutan secara liar menjadi salah satu ancaman. Namun, dalam satu dekade terakhir, perburuan untuk diperdagangkan justru menjadi ancaman utama bagi keberlangsungan populasinya.
Bas van Balen, James Eaton & Frank E. Rheindt dalam “Biology, taxonomy and conservation status of the Short-tailed Green Magpie Cissa [t.] thalassina from Java” yang dimuat dalam Bird Conservation International (2011) menjelaskan bahwa Ekek Keling Sunda merupakan burung yang hidup di kawasan hutan dataran tinggi, terutama hutan montane dan submontane pada ketinggian sekitar 500 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut.
Di Jawa Barat, keberadaannya pernah tercatat di sejumlah kawasan, antara lain Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tubuhnya memiliki panjang sekitar 31–33 sentimeter, termasuk ekornya yang pendek dengan bentuk lurus dan ujung tumpul. Jambulnya relatif pendek, sedangkan sayapnya lebih lebar dan panjang dengan motif yang tidak terlalu mencolok. Matanya merah, tungkainya relatif panjang, dan paruhnya panjang berwarna merah. Jambulnya juga berwarna hijau dengan struktur bulu yang pendek.
Burung ini dapat ditemukan sendirian, berpasangan, maupun bersama burung-burung lain. Makanannya antara lain serangga seperti kecoa, belalang, kumbang kecil, dan ulat dari kelompok Lepidoptera. Burung ini juga diperkirakan memangsa vertebrata kecil lainnya.
Data mengenai perkembangbiakannya memang masih terbatas. Namun, musim berbiaknya diperkirakan berlangsung pada bulan-bulan basah, terutama saat musim hujan, sekitar Oktober hingga April. Proses pengeraman telurnya berlangsung selama kurang lebih 23 hari.
Terdesak Perburuan
Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI), Tony Sumampau, menyebut keberadaan Ekek Keling Sunda asal Gunung Pangrango kini dapat dikatakan nyaris punah, terutama karena terdesak oleh perburuan.
"Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!