Saham Asia Menguat, Investor Cermati Langkah AS Tekan Imbal Hasil Obligasi
📅 Jumat, 21 Agu 2026, 14:50 WIB | Oleh: Tim PenulisHong Kong– Saham-saham Asia bergerak menguat tipis pada Jumat (21/8), ketika investor mencermati langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) untuk menekan imbal hasil obligasi jangka panjang. Namun, sejumlah analis memperingatkan langkah tersebut saja belum cukup untuk mencegah kenaikan biaya pinjaman.
Dilansir dari AFP, janji Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahwa pemerintah masih memiliki sejumlah instrumen untuk memberikan dukungan belum banyak menenangkan pasar AS. Investor Wall Street yang skeptis kembali melakukan aksi jual di tengah kekhawatiran terhadap inflasi yang masih tinggi dan peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Minimnya kemajuan dalam pembukaan kembali Selat Hormuz juga menambah kekhawatiran di pasar. Harga minyak meningkat dalam dua pekan terakhir karena AS dan Iran masih menemui jalan buntu dalam penyelesaian konflik.
Departemen Keuangan AS pada Rabu memberikan dorongan bagi pasar dengan menyatakan berencana “setidaknya menggandakan” pembelian kembali obligasi pemerintah. Langkah itu diumumkan sehari setelah imbal hasil obligasi AS bertenor 30 tahun melonjak ke level terakhir terlihat pada 2007, menjelang krisis keuangan global.
Pengumuman tersebut sempat membuat imbal hasil obligasi jangka panjang turun tajam. Namun, imbal hasil kembali meningkat pada Kamis. Mark Malek dari Muriel Siebert & Co menyebut langkah tersebut sebagai “langkah administratif yang kemungkinan hanya berdampak dalam jangka pendek”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bessent mengatakan kepada CNBC pada Kamis bahwa kementeriannya memiliki “seperangkat instrumen yang besar” untuk menghadapi kenaikan imbal hasil yang dinilai tidak mencerminkan kondisi fundamental keuangan. Salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah meningkatkan pembelian obligasi melebihi skala yang telah diumumkan sebelumnya.
“Kami menilai ini merupakan area pasar yang diperdagangkan tipis, saat ini kita berada di bulan Agustus, dan banyak penerbitan obligasi korporasi yang memengaruhi pasar,” kata Bessent.
“Kami percaya imbal hasil tersebut tidak mencerminkan fundamental yang mendasarinya.”
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menambahkan inflasi, yang telah berada di atas target Federal Reserve sebesar 2 persen selama lebih dari lima tahun, akan mereda setelah AS “melewati” perang dengan Iran dan harga minyak kembali turun.
Kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan Wall Street. Ketiga indeks utama AS ditutup melemah, sementara saham perusahaan teknologi ikut turun karena sektor tersebut banyak mengandalkan utang untuk membiayai investasi berskala besar.
Pasokan Obligasi Berlebih
Pasar Asia justru kembali mencatat perdagangan positif. Indeks saham di Seoul terdorong kenaikan perusahaan semikonduktor.
Samsung melonjak 3,9 persen setelah laporan menyebut perusahaan tersebut berencana mengembalikan dana kepada pemegang saham hingga 79 miliar dolar AS. Saham SK hynix juga naik lebih dari 2 persen, sehari setelah melonjak lebih dari 12 persen menyusul pengumuman rencana pembelian kembali saham senilai 29 miliar dolar AS.
Pasar saham Hong Kong, Singapura, Wellington, Taipei, Mumbai, Bangkok, dan Jakarta juga menguat. Sementara itu, Tokyo dan Sydney melemah tipis, sedangkan Shanghai bergerak datar.
Di Eropa, London dan Frankfurt menguat tipis, sedangkan Paris melemah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!