Kematian Arsitek Ekonomi Zhu Rongji Membuka Fase 'Superpolitik' Tiongkok
📅 Minggu, 16 Agu 2026, 13:57 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SBEIJING - Mantan Perdana Menteri Tiongkok Zhu Rongji wafat pada 12 Agustus 2026, hanya lima hari sebelum peringatan 100 tahun kelahiran mantan Presiden Jiang Zemin. Kurang dari dua bulan kemudian, Partai Komunis Tiongkok akan menggelar sidang pleno kelima Komite Sentral ke-20.
Dari Think China, berdekatannya tiga peristiwa tersebut membuat politik Tiongkok sejak Agustus hingga Oktober memasuki periode yang tidak biasa.
Komentator politik dan kolumnis independen Deng Yuwen menyebutnya sebagai periode “superpolitik” Tiongkok. Istilah itu merujuk pada situasi ketika sejumlah peristiwa politik besar terjadi dalam waktu berdekatan sehingga saling memperkuat tafsir politik.
Deng menegaskan, “superpolitik” tidak berarti sedang terjadi perebutan kekuasaan luar biasa di Zhongnanhai, apalagi para sesepuh partai yang sudah pensiun sedang bersiap menantang Presiden Xi Jinping.
Sebaliknya, jika dilihat secara terpisah, peringatan 100 tahun kelahiran Jiang, kematian Zhu, dan sidang pleno kelima masing-masing memiliki logika kelembagaan sendiri. Tidak satu pun dari ketiga peristiwa tersebut secara khusus merupakan sesuatu yang abnormal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Protokol politik yang sudah ditetapkan
Sebagai tokoh “inti” resmi kepemimpinan pusat generasi ketiga Partai Komunis Tiongkok, Jiang akan tetap menerima peringatan besar pada ulang tahun ke-100 kelahirannya. Hal tersebut merupakan bagian dari tradisi politik partai.
Karena itu, perlakuan terhadap Jiang tidak perlu ditafsirkan sebagai Xi Jinping yang tiba-tiba mengangkat kembali sosok Jiang, apalagi sebagai bukti “kembalinya kaum reformis”.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal serupa berlaku terhadap kematian Zhu Rongji.
Zhu merupakan mantan perdana menteri dan mantan anggota Komite Tetap Politbiro. Evaluasi resmi terhadap dirinya serta pengaturan pemakamannya pada dasarnya mengikuti preseden bagi pemimpin dengan tingkat jabatan yang sama.
Karena itu, penghormatan terhadap Zhu juga tidak perlu dibaca sebagai tanda bahwa Xi tiba-tiba mengangkat kembali warisan politik Zhu atau sebagai bukti kebangkitan kelompok reformis.
Bahkan waktu kematian Zhu, meskipun terlihat mendadak bagi publik, kemungkinan bukan sesuatu yang sepenuhnya tidak terduga bagi pimpinan di Zhongnanhai.
Zhu berusia 97 tahun. Kondisi kesehatan mantan pemimpin dengan pangkat seperti dirinya tentu dipantau secara ketat oleh pimpinan pusat.
Jika kondisinya memburuk, Kantor Umum Partai Komunis Tiongkok dan lembaga terkait tidak mungkin menunggu hingga saat-saat terakhir sebelum melakukan persiapan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!