Infantino Dapat Dukungan Penuh FIFA, Minta Maaf atas Kontroversi Rencana Privatisasi Piala Dunia
📅 Jumat, 07 Agu 2026, 00:02 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraRABAT – Presiden FIFA, Gianni Infantino, tetap mendapat dukungan penuh dari jajaran pimpinan federasi sepak bola dunia meski berada di bawah tekanan menyusul kontroversi rencana privatisasi hak komersial Piala Dunia yang akhirnya dibatalkan. Dalam pertemuan darurat di Rabat, Maroko, Kamis (6/8) waktu setempat, FIFA juga menyampaikan permintaan maaf secara resmi atas kesalahan dalam proses penyusunan dan komunikasi proposal tersebut.
Pernyataan itu menjadi upaya FIFA meredam krisis yang berkembang dalam beberapa hari terakhir. Sejak proposal tersebut bocor ke publik, Infantino menghadapi kritik tajam, bahkan dari kalangan internal organisasi, sementara sejumlah federasi sepak bola mendesak agar ia mengundurkan diri.
Dalam pernyataan resminya, FIFA mengakui bahwa proses penyusunan proposal tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
"Pertemuan juga membahas proposal FIFA Forward Enterprise (FFE), di mana kesalahan yang terjadi telah diakui. Bukan niat kami membuat Dewan FIFA maupun asosiasi anggota merasa tidak dilibatkan dalam proses. Penanganannya seharusnya dilakukan dengan cara yang berbeda," demikian pernyataan FIFA.
FIFA juga mengakui adanya kekeliruan setelah dokumen proposal tersebut bocor ke media. Sebagai tindak lanjut, organisasi itu telah mengirimkan surat kepada Dewan FIFA dan seluruh 211 asosiasi anggotanya yang berisi permintaan maaf resmi serta komitmen agar kesalahan serupa tidak terulang.
Kontroversi bermula ketika FIFA mengajukan pembentukan perusahaan komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Entitas ini dirancang untuk mengelola aset komersial turnamen-turnamen terbesar FIFA, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
Melalui skema tersebut, FIFA memperkirakan mampu menghimpun investasi hingga 4,2 miliar dolar AS sekitar 69,3 triliun rupiah. FFE diperkirakan memiliki valuasi mencapai 20 miliar dolar AS atau sekitar 330 triliun rupiah.
FIFA beralasan dana segar tersebut akan digunakan untuk memperkuat pembangunan sepak bola global. Seluruh 211 asosiasi anggota FIFA dijanjikan menerima pembayaran satu kali sebesar 20 juta dolar AS atau sekitar 330 miliar rupiah pada awal 2027.
Selain itu, alokasi dana program pengembangan untuk siklus 2027–2030 juga diusulkan naik dari 8 juta dolar AS (sekitar 132 miliar rupiah) menjadi 20 juta dolar AS (sekitar 330 miliar rupiah) bagi setiap asosiasi anggota.
Namun, tawaran insentif finansial tersebut justru memicu penolakan luas. Banyak pihak menilai FIFA berupaya menyerahkan aset paling berharga dalam sepak bola dunia kepada investor swasta.
Gelombang penolakan mencapai puncaknya ketika UEFA mempertimbangkan opsi paling ekstrem, yakni memboikot Piala Dunia apabila proposal tersebut tetap dijalankan.
Menghadapi tekanan yang terus membesar, Infantino akhirnya mencabut proposal itu pada Sabtu lalu.
"Tujuan kami selalu, dan akan selalu, untuk mempersatukan serta memajukan sepak bola," kata Infantino saat mengumumkan pembatalan rencana tersebut.
Dalam rapat di Rabat, Sekretaris Jenderal FIFA bersama anggota Dewan Manajemen FIFA kembali menegaskan dukungan terhadap Infantino sebagai satu-satunya presiden yang dipilih langsung oleh seluruh 211 asosiasi anggota FIFA.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!