Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Masih Rentan - 04 September 2026

📅 Jumat, 04 Sep 2026, 08:30 WIB | Oleh:
Rupiah Masih Rentan - 04 September 2026 Doc: Istimewa

Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada perdagangan akhir pekan karena pelaku pasar masih me­nunggu arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Ketidakpastian mengenai langkah bank sentral AS, The Fed membuat investor cenderung berhati-hati, sementara pe­rubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi arus modal dan permintaan terhadap dollar AS.

Pelaku pasar kini semakin memperbesar ekspektasi ter­hadap kemungkinan perubahan arah kebijakan The Fed dalam waktu dekat.

Sikap Gubernur The Fed, Kevin Warsh, yang lebih tegas dalam merespons risiko inflasi pada Sim­posium Jackson Hole turut mendorong spekulasi bahwa ke­naikan suku bunga bisa terjadi paling cepat pada September.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 15–16 September meningkat menjadi sekitar 64 persen, dari 36 persen pada pekan sebelumnya.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah in­dikator ekonomi AS, yakni klaim pengangguran mingguan dan ISM Services PMI Agustus, sebelum pasar menanti data ketenagakerjaan utama Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan rilis Jumat.

Data-data tersebut akan menjadi penentu penting dalam membaca arah kebijakan moneter AS dan pergerakan pasar keuangan global.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi memproyeksi­kan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Jumat (4/9), bergerak fluktuasi di kisaran 17.630 – 17.680 rupiah per dollar AS.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan Kamis (3/9) sore, bergerak menguat 84 poin atau 0,47 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.679 rupiah per dollar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa me­nyatakan penguatan rupiah dipengaruhi data ketenagak­erjaan swasta AS yang lebih lemah dari perkiraan.

“Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, se­hingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian,” ujarnya di Jakarta.

Data ADP Employment Change menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38 ribu pada bulan Agus­tus, berada di bawah perkiraan 47 ribu dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46 ribu.

Di sisi lain, lanjut Amru, harga minyak yang mulai terkoreksi dari level tingginya turut mengurangi tekanan terhadap mata uang kawasan.

Dia berpendapat sentimen negatif dari eskalasi konflik AS-Iran belum menjadi faktor yang dominan terhadap per­gerakan rupiah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...

BMKG Khawatirkan Durasi Musim Hujan yang Pendek

25 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
BMKG Khawatirkan Durasi Mus...
Nasional
Bapanas Proses 102 Tersangk...
Nasional
BPJPH Ungkap Minat Negara B...
Advertisement
Asian Games Jepang Disorot: Akomodasi Kacau, Transportasi Dikeluhkan Kontingen

Asian Games Jepang Disorot: Akomodasi Kacau, Transportasi Dikeluhkan Kontingen

25 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.