Saat Kolam Air Tawar Menjadi Harapan Baru Warga Pulau Karas
📅 Jumat, 31 Jul 2026, 16:30 WIB | Oleh: Tim Penulis"Insya Allah sudah mencukupi," kata Abbas, yang mengaku keturunan Melayu.
Keberhasilan usaha kecil mereka menarik perhatian pemerintah setempat. Pada akhir 2025, kelompok tersebut memperoleh bantuan delapan kolam bioflok untuk budi daya nila dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Namun, pengalamannya dengan lele ternyata tidak membuat Abbas langsung percaya diri membudidayakan nila dengan sistem bioflok, yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai pendaur ulang limbah dari kotoran ikan dan pakan.
Berbeda dengan pembesaran lele tradisional yang telah lama ditekuni, sistem tersebut menuntut dia dan kelompoknya untuk selalu menjaga kualitas air dan keseimbangan mikroorganisme di dalam kolam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Banyak hal yang harus dipahami, kata Abbas, karena ini kali pertama kelompoknya membudidayakan nila dengan cara dan perlakuan yang baru.
"Pada awal-awal banyak yang mati karena bibitnya terlalu kecil, kira-kira 3 sampai 4 centimeter," ujarnya.
Bibit ikan yang terlalu kecil berisiko mengalami keracunan karena kondisi fisiknya belum siap menoleransi air dalam kolam bioflok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika dikunjungi tim dari Dinas Perikanan Batam pada Mei 2026, petugas memeriksa kualitas air, sistem aerasi, pemberian pakan, dan ukuran ikan dalam sebuah kolam.
Kepala dinas Yudi Admajianto menilai kondisi kolam bioflok itu belum sesuai harapan. Airnya terlihat cokelat dan beberapa ikan mati mengambang.
Kolam bioflok biasanya memiliki air berwarna hijau tua, yang menjadi petunjuk bahwa gumpalan organik (flok) di dalamnya berkembang dengan baik. Selain menjaga kualitas air, flok menjadi makanan alami dengan kandungan protein tinggi sehingga mampu menekan biaya pakan.
Hasil pemeriksaan air pada kolam bioflok itu menunjukkan bahwa produksi flok masih sangat rendah sehingga kualitas air berkurang, pertumbuhan ikan melambat, dan bahkan berisiko menyebabkan kematian ikan. Perbaikan kondisi diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan.
Meski demikian, Yudi mengatakan Pokdakan Anak Karas Kecil akan segera panen nila. Dia mengaku sedang mencari pengepul yang mau membeli hasil panen mereka langsung di Pulau Karas yang cukup jauh dari pusat kota.
Dengan cara itu, biaya pengiriman ikan bisa ditekan sehingga hasil penjualan lebih menguntungkan pembudidaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!