Saat Kolam Air Tawar Menjadi Harapan Baru Warga Pulau Karas
📅 Jumat, 31 Jul 2026, 16:30 WIB | Oleh: Tim PenulisBATAM – Di tengah hamparan laut Pulau Karas, Kabupaten Kepulauan Riau, warga mulai menemukan harapan baru yang justru tumbuh dari kolam-kolam air tawar.
Jika selama ini kehidupan masyarakat identik dengan hasil tangkapan laut, kini budi daya ikan air tawar perlahan menjadi sumber penghasilan alternatif yang menjanjikan.
Selain memperkuat ketahanan pangan di wilayah kepulauan, usaha ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi keluarga nelayan.
Perubahan kecil ini menunjukkan bahwa inovasi di sektor perikanan mampu menghadirkan masa depan yang lebih beragam bagi masyarakat pesisir, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada hasil laut yang kian dipengaruhi cuaca dan musim.
"Sekarang sudah tidak ada kepikiran ke laut lagi," kata Abbas, warga Pulau Karas, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di pulau kecil itu, yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai nelayan, ucapan Abbas terdengar tak biasa.
Abbas memang pernah melaut. Namun, pekerjaan itu sudah ditinggalkannya sejak sekitar dua tahun lalu.
"Untuk melaut harus menempuh jarak jauh, dengan biaya besar dan risiko besar," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hasil tangkapan yang tidak pasti mendorongnya untuk beralih profesi. Bukan ikan laut lagi yang dia incar, tetapi ikan air tawar yang dia besarkan di kolam-kolam terpal.
Pulau Karas berada di Kecamatan Galang, Kota Batam, dan bisa ditempuh selama 30 menit dengan kapal tradisional dari dermaga Tanjung Banun di ujung utara Pulau Rempang.
Perlu waktu lagi untuk menempuh perjalanan darat melewati jalan tak beraspal dan kawasan hutan, untuk mencapai lokasi budi daya ikan air tawar milik Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Anak Karas Kecil yang diketuai Abbas,
Di balik rerimbunan pohon, 30 kolam terpal berjajar di atas lahan setengah hektare yang cukup jauh dari permukiman warga. Di sanalah kelompok itu membesarkan lele dan nila, setelah Abbas belajar budi daya ikan air tawar di Tanjung Balai Karimun dan Bintan.
Dalam satu kali panen, Pokdakan Anak Karas Kecil rata-rata mendapatkan sekitar 200 kilogram lele dari 22 kolam terpal tradisional. Namun jika kondisi kolam mendukung dan tidak ada penyakit, mereka bisa menghasilkan 300 hingga 500 kilogram. Produksi mereka kemudian dijual kepada pengepul di Sembulang.
Dengan harga jual lele saat itu yang mencapai Rp24.000 per kilogram, Abbas dan kawan-kawannya bisa mengantongi uang hingga Rp12 juta sekali panen. Setelah disisihkan sebagian untuk pakan dan biaya operasional, sisa penghasilan dipakai untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!