Pembangunan Tidak Bisa Terus Bergantung pada Modal Asing
📅 Rabu, 29 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiPenguatan tabungan domestik menjadi langkah penting karena dana masyarakat lebih stabil dibanding modal asing karena tidak mudah terpengaruh perubahan suku bunga global maupun sentimen investor.
“Semakin besar porsi pembiayaan yang berasal dari tabungan dalam negeri, semakin kuat pula ketahanan ekonomi kita dalam menghadapi guncangan,” katanya.
Untuk meningkatkan tabungan, Pemerintah harus menyelesaikan tiga tantangan utama yaitu daya beli sebagian masyarakat yang masih terbatas, tingkat konsumsi masih tinggi, dan akses terhadap produk keuangan jangka panjang belum merata.
Sebagai solsinya, dia mendorong kebijakan difokuskan pada tiga hal. Pertama, perluasan inklusi keuangan agar lebih banyak masyarakat masuk sistem keuangan formal
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua, pengembangan instrumen jangka panjang seperti dana pensiun dan asuransi. Ketiga, penguatan pasar keuangan agar dana masyarakat bisa disalurkan efisien ke sektor-sektor produktif.
Modal asing tegasnya tetap diberi peran, terutama jika membawa transfer teknologi, peningkatan produktivitas, dan praktik manajemen yang lebih baik.
“Hal yang terpenting adalah menjaga agar kebergantungan terhadap pembiayaan eksternal tidak terlalu besar sehingga kedaulatan pembiayaan tetap berada di tangan Indonesia,” tegasnya.
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti sepakat dengan Anggito di mana masalah utama Indonesia adalah rendahnya inklusi keuangan.
“Data menunjukkan sekitar 80 persen masyarakat Indonesia masih unbankable. Akses kredit UMKM juga hanya berkisar belasan persen,” kata Esther.
Kondisi tersebut membuat kapasitas pembiayaan domestik sulit berkembang. Sebab itu, strategi financial deepening harus segera dilakukan agar masyarakat menjadi bankable dan jumlah penabung meningkat.
Di kesempatan terpisah, Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, mengatakan ketergantungan pada modal asing bukan sekadar persoalan pembiayaan, tetapi mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi domestik.
“Akar masalahnya adalah pendapatan masyarakat yang stagnan, deindustrialisasi, dan lemahnya kapasitas negara menghimpun penerimaan,” jelas Badiul.
Pembangunan papar Badiul tidak bisa terus bergantung ke modal asing yang mudah keluar saat krisis. Pengalaman gejolak global menunjukkan capital outflow dapat melemahkan rupiah, menaikkan biaya utang, dan mempersempit ruang fiskal, sehingga agenda pembangunan nasional semakin bergantung pada sentimen pasar internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!