Pembangunan Tidak Bisa Terus Bergantung pada Modal Asing
📅 Rabu, 29 Jul 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan menyatakan rasio tabungan masyarakat Indonesia perlu diperkuat untuk memperbesar kapasitas pembiayaan domestik yang berkelanjutan serta mengurangi kebergantungan terhadap modal asing.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu dalam Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta Komisariat Perbanas di Jakarta, Selasa (28/7) mengatakan rasio tabungan masyarakat Indonesia saat ini baru sekitar 42 persen, terendah di antara peers country.
“Angka ini lebih rendah dibandingkan banyak negara Asia. Artinya, dari sisi positifnya, kapasitas pembiayaan domestik masih harus terus diperkuat,” kata Anggito.
Menurut Anggito, pembiayaan pembangunan yang berkelanjutan harus bertumpu pada tabungan masyarakat, bukan hanya mengandalkan modal asing.
Dalam paparannya, LPS mencatat posisi dana pihak ketiga (DPK) bank umum serta Bank Perkreditan/Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPRS per Desember 2025 mencapai 10.057 triliun rupiah, sedangkan produk domestik bruto (PDB) nominal 2025 sebesar 23.821 triliun rupiah. Dengan demikian, rasio DPK terhadap PDB berada di kisaran 42,2 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan perbandingan data 2024 dalam paparan tersebut, rasio DPK terhadap PDB Indonesia sebesar 39,9 persen, lebih rendah dibandingkan Vietnam 127,2 persen, Malaysia 125,5 persen, Thailand 85,6 persen, India 66 persen, Filipina 65,9 persen, Afrika Selatan 64,5 persen, dan Brasil 56 persen.
“Pendalaman sektor keuangan menjadi sangat penting. Aset keuangan, investor institusi, maupun pembiayaan terhadap PDB kita masih rendah. Dengan kata lain, Indonesia bukan kekurangan peluang. Indonesia memiliki potensi untuk tumbuh di sektor keuangan yang sangat besar,” ujarnya.
Selain meningkatkan tabungan masyarakat, ia menilai perluasan akses terhadap layanan perbankan juga masih menjadi pekerjaan besar. Sebab, masih banyak penduduk yang belum memiliki rekening bank. Data LPS menunjukkan jumlah penduduk yang belum memiliki rekening bank pada 2025 mencapai sekitar 49,7 juta orang dan diproyeksikan turun menjadi 46,5 juta orang pada 2026.
Untuk kelompok usia 15-69 tahun, penduduk yang belum memiliki rekening diproyeksikan turum dari 15,3 juta orang pada 2025 menjadi 13,5 juta orang pada 2026.
Kondisi tersebut, menunjukkan proses digitalisasi sektor keuangan belum selesai sehingga ukuran keberhasilannya tidak hanya diukur dari banyaknya aplikasi digital, melainkan dari semakin luasnya masyarakat yang memperoleh akses ke layanan keuangan formal.
Belum Kuat
Peneliti Ekonomi CORE Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menilai rasio tabungan nasional Indonesia yang masih sekitar 42 persen menunjukkan kapasitas pembiayaan dari dalam negeri belum cukup kuat.
“Pernyataan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu sebagai pengingat bahwa pembangunan tidak bisa terus bergantung pada modal asing,” katanya.
Kapasitas pembiayaan domestik yang belum kuat itulah yang membuat Indonesia masih rentan terhadap gejolak eksternal. “Kita masih rentan terhadap gejolak eksternal, seperti arus keluar modal, pelemahan nilai tukar, dan tekanan terhadap stabilitas ekonomi,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!