Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bapanas: Rata-rata Harga Gabah Petani Mencapai Rp7.000/Kg, Lebih Tinggi dari HPP

24 Jumat, 17 Jul 2026, 11:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bapanas: Rata-rata Harga Gabah Petani Mencapai Rp7.000/Kg, Lebih Tinggi dari HPP Bapanas: Rata-rata Harga Gabah Petani Mencapai Rp7.000/Kg, Lebih Tinggi dari HPP Doc: Bapanas
Ket. Petani melakukan panen padi menggunakan mesin perontok di areal persawahan.

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut rata-rata harga gabah petani mencapai Rp7.000 per kilogram, melampaui harga pembelian pemerintah (HPP) sehingga mendorong kesejahteraan petani sekaligus menjaga semangat meningkatkan produksi pangan nasional.

"Saat ini rata-rata harga gabah kering panen (GKP) berada di kisaran Rp7.000 per kilogram (kg), lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp6.500 per kg," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (17/7).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi insentif positif bagi petani untuk terus meningkatkan produksi padi sehingga mendukung upaya pemerintah mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.

Ketut menjelaskan pemerintah berkomitmen menjaga harga gabah di tingkat petani tetap menguntungkan agar semangat produksi tetap terpelihara, sementara stabilisasi harga beras di tingkat konsumen terus dilakukan melalui berbagai kebijakan.

Bapanas menyatakan indeks harga petani padi menembus 149 seiring harga gabah menguat dan pemerintah menjaga keterjangkauan harga beras melalui berbagai program stabilisasi pangan nasional.

"Harga gabah di tingkat petani yang terjaga merupakan salah satu indikator positif bagi keberlanjutan produksi pangan nasional," ujarnya.

Di tengah dinamika harga beras, kata dia, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara peningkatan kesejahteraan petani sebagai produsen dan keterjangkauan harga bagi masyarakat sebagai konsumen.

Ia mengatakan harga beras memiliki keterkaitan erat dengan harga gabah sehingga kenaikan harga GKP berpotensi mendorong harga beras melampaui harga eceran tertinggi (HET), namun pemerintah akan terus menjaga agar harga di tingkat konsumen tetap berada dalam batas kewajaran.

"Tentu ada sisi positif. Sisi positifnya apa? Petani kita lagi bahagia. Nah kalau kita ingin menjadi negara produsen beras, ingin swasembada, tentu ini sisi positif. Kenapa? karena harganya nyaman bagi petani kita, nyaman bagi petani kita untuk berproduksi," kata Ketut lagi.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan indeks harga yang diterima petani padi hingga Juni 2026 semakin bertumbuh pesat mencapai 149,65. Indeks tersebut merupakan yang paling tinggi sejak tahun 2019 atau dalam 7 tahun terakhir.

Dilihat secara rata-rata tahunan, indeks harga yang diterima petani padi pada 2025 berada di 141,31 atau meningkat pesat 36,32 poin dibandingkan rata-rata pada tahun 2021 yang masih di 104,99.

Secara berurutan rata-rata tahunan indeks harga yang diterima petani padi tercatat terus bertumbuh, antara lain tahun 2022 dengan 110,42, tahun 2023 dengan 127,26, dan tahun 2024 dengan 135,99.

Adapun selama tahun 2025, pemerintah memastikan harga gabah tingkat petani tidak jatuh di bawah HPP Rp6.500 per kg.

Data BPS menunjukkan rata-rata harga pembelian gabah sepanjang tahun 2025 tidak pernah di bawah Rp6.500 per kg. BPS mencatat harga paling rendah terjadi di April 2025 dengan rata-rata Rp6.712 per kg.

Sementara, status kesejahteraan petani Indonesia dalam data BPS, salah satunya dapat dilihat dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada Juni 2026 yang berada di 127,65. Sementara untuk indeks NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) mencatatkan rekor tertinggi sejak Maret 2024. Per Juni 2026, NTPP telah tercapai 114,65.

"Lalu tingkat konsumen bagaimana? Makanya ada bantuan pangan bagi 33,24 juta keluarga. Kalau 1 keluarga ada 3 orang saja, kali 3, kan sekitar 90 juta sekian orang sudah kita bantu dengan bantuan pangan. Ini meringankan masyarakat kita yang membutuhkan," tambah Ketut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Homepage Mobile Atas
Advertisement
Homedec Homepage

Wisata Kebun Stroberi Jadi Daya Tarik di Mamasa

54 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Wisata Kebun Stroberi Jadi ...
Luar Negeri
Kemlu: Dua WNI Turut Jadi K...

UNDP Desak Percepatan Investasi Hijau

1 jam lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
UNDP Desak Percepatan Inves...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

BMKG Prakirakan Mayoritas Cuaca Kota Besar Indonesia Berawan dan Hujan Ringan Sabtu Ini

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.