Misteri Fosil Homo naledi yang Semuanya Perempuan
📅 Rabu, 01 Jul 2026, 07:33 WIB | Oleh: Haryo BronoJAUH di bawah permukaan bumi Afrika Selatan, lorong-lorong batu kapur yang sempit dan gelap ada sejarah evolusi manusia yang tersimpang. Di sini pernah ditemukan kerangka manusia purba yang kemudian membingungkan para ilmuwan.
Untuk mencapai ruang tempat fosil-fosil itu ditemukan, para peneliti harus merangkak melewati celah sempit yang di beberapa bagian lebarnya bahkan tak lebih dari 20 sentimeter.
Tidak ada cahaya matahari yang mampu menembus kedalaman itu. Hanya lampu kepala para penjelajah yang memecah kegelapan yang telah bertahan selama ratusan ribu tahun.
Di tempat yang nyaris mustahil dijangkau manusia modern itulah, sistem Gua Rising Star di Afrika Selatan menyimpan sisa-sisa kehidupan sebuah spesies manusia purba yang kemudian diberi nama Homo naledi.
Sejak pertama kali diperkenalkan kepada dunia pada 2015, Homo naledi telah berkali-kali memaksa ilmuwan meninjau ulang berbagai asumsi tentang perjalanan evolusi manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kini, lebih dari satu dekade kemudian, sebuah penelitian baru kembali menambahkan lapisan misteri yang tak kalah mengejutkan.
Analisis protein purba yang masih tersimpan di enamel gigi menunjukkan bahwa seluruh fosil Homo naledi yang berhasil dipelajari kemungkinan berasal dari individu berjenis kelamin perempuan. Tentu saja temuan baru yang dipublikasikan dalam jurnal Cell itu bukan sekadar mengubah cara ilmuwan memandang biologi Homo naledi namun membuka kembali perdebatan besar yang pernah terjadi.
Polekmik yang pernah mengemuka mungkinkah gua itu sebenarnya merupakan tempat pemakaman? Dan jika benar memang perempuan, mengapa kerangka yang ditemukan hampir seluruhnya perempuan?
Penemuan Mengubah Paleoantropologi
Kisah Homo naledi dimulai pada 2013 ketika tim peneliti yang dipimpin paleoantropolog Lee Berger melakukan eksplorasi di kompleks Gua Rising Star, sekitar 50 kilometer di barat laut Johannesburg. Yang mereka temukan bukan sekadar beberapa tulang manusia purba.
Di dalam ruang yang kemudian dinamai Dinaledi Chamber, para peneliti menemukan ribuan fragmen tulang yang berasal dari sedikitnya 15 individu. Penelitian lanjutan kemudian menambah jumlah tersebut menjadi sedikitnya 20 individu.
Hingga hari ini, seluruh spesimen Homo naledi yang diketahui dunia masih berasal dari satu kompleks gua itu. Tidak ada situs lain yang menghasilkan fosil spesies ini.
Keunikan tersebut segera menarik perhatian komunitas ilmiah. Ketika usia fosil berhasil ditentukan, hasilnya bahkan lebih mengejutkan. Homo naledi ternyata hidup sekitar 236.000 hingga 335.000 tahun lalu masa ketika manusia modern awal (Homo sapiens) mulai berkembang di Afrika.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan mengira spesies dengan otak kecil telah lama punah sebelum periode tersebut. Namun Homo naledi justru hidup berdampingan dengan manusia yang secara anatomi sudah jauh lebih modern.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!