Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dampak Perubahan Iklim: Hantaman Gelombang Panas Bakal Guncang Ekonomi Eropa

📅 Rabu, 01 Jul 2026, 15:47 WIB | Oleh:
Dampak Perubahan Iklim: Hantaman Gelombang Panas Bakal Guncang Ekonomi Eropa Doc: AFP/Denis Charlet

BERLIN - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa mulai membebani aktivitas ekonomi di berbagai negara, terutama Jerman sebagai ekonomi terbesar di kawasan tersebut. 

Para ekonom dan organisasi internasional memperingatkan bahwa gelombang panas yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim kini tidak lagi dipandang sebagai peristiwa sementara, melainkan risiko makroekonomi struktural yang dapat mengancam investasi dan produksi.

Suhu pada Juni yang memecahkan rekor di sejumlah negara Eropa membuat Prancis, Inggris, Swiss, dan Jerman mengalami bulan Juni terpanas dalam beberapa tahun terakhir.

Gelombang panas di Prancis bahkan mengingatkan kembali pada peristiwa musim panas 2003 yang diperkirakan menyebabkan sekitar 70 ribu kematian.

Rumah sakit di beberapa negara Eropa melaporkan kondisi kritis akibat gangguan pada sistem pendingin dan infrastruktur teknologi informasi, sementara Prancis terpaksa menghentikan sementara operasi dua reaktor nuklir.

Kepala Riset Makro dan Kepala Ekonom Jerman di ING, Carsten Brzeski, Senin (29/6), menulis bahwa gelombang panas yang memecahkan rekor di Eropa telah berubah dari sekadar peristiwa cuaca menjadi variabel makroekonomi yang mengguncang perekonomian kawasan, mengingatkan pada dampak pembatasan aktivitas saat pandemi COVID-19.

Menurut Brzeski, jalan-jalan yang sepi, sekolah yang ditutup, gangguan layanan kereta api, dan penghentian reaktor nuklir di Prancis akibat kekurangan air pendingin meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat maupun ekonomi Eropa.

“Ternyata termometer telah menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi. Gelombang panas menghadirkan risiko penurunan baru bagi pertumbuhan Eropa,” katanya.

Ia mengatakan risiko terkait panas selama ini dianggap sebagai masalah Eropa Selatan, tetapi data terbaru menunjukkan Jerman berpotensi menempati peringkat ketiga di Eropa dalam kerugian ekonomi kumulatif akibat udara panas hingga 2030.

“Bukan karena musim panas Jerman akan setara dengan Sevilla, tetapi karena infrastruktur, perumahan, serta sektor padat karya seperti konstruksi dan logistik dibangun untuk iklim yang lebih sejuk dan belum mampu beradaptasi,” ujarnya.

Brzeski mengutip laporan Climate Analytics Januari 2026 yang disusun atas permintaan Bank Dunia dan menyebut Jerman masih kekurangan langkah komprehensif untuk menghadapi tekanan panas, sementara perencanaan adaptasi tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Ia juga menambahkan bahwa survei bisnis Komisi Eropa semakin sering menunjukkan cuaca sebagai faktor yang membatasi produksi. Dalam beberapa musim panas terakhir, Spanyol dan Jerman tercatat mengalami gangguan paling besar akibat gelombang panas.

Meski harga energi yang lebih rendah dapat sedikit membantu rumah tangga dan pelaku usaha, Brzeski menilai panas ekstrem tetap menjadi hambatan besar bagi pertumbuhan ekonomi karena ancaman gangguan pasokan, penurunan permukaan air, kerusakan infrastruktur transportasi, serta penurunan produktivitas tenaga kerja.

Ia mengutip studi tahun 2021 yang memperkirakan bahwa tahun-tahun dengan gelombang panas terburuk di Eropa, yakni 2003, 2010, 2015, dan 2018, menyebabkan kehilangan output ekonomi sebesar 0,3 - 0,5 persen PDB hanya akibat turunnya produktivitas tenaga kerja, bahkan melebihi 1 persen di wilayah yang paling terdampak.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Otoritas Malaysia Turunkan Harga Bensin dan Solar Nonsubsidi Selama Sepekan

Otoritas Malaysia Turunkan Harga Bensin dan Solar Nonsubsidi Selama Sepekan

01 Jul 2026
Pilihan Pembaca
# 2
# 2
37 Komoditas Sumber Inflasi Dicermati
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.