Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Daya Beli Tergerus, Petani Dihadapkan pada Tekanan Biaya Hidup dan Produksi

📅 Rabu, 01 Jul 2026, 17:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Daya Beli Tergerus, Petani Dihadapkan pada Tekanan Biaya Hidup dan Produksi Doc: ANTARA/ Desi Purnama Sari
Ket. Petani melakukan panen padi di Baros, Kabupaten Serang, Banten.

JAKARTA – Penurunan daya beli petani mencerminkan bahwa kenaikan pendapatan dari hasil pertanian belum mampu mengimbangi peningkatan biaya hidup maupun biaya produksi.

Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh melemahnya harga komoditas di tingkat petani, meningkatnya harga pupuk, benih, dan kebutuhan lainnya, serta inflasi yang menggerus kemampuan konsumsi rumah tangga.

Jika berlanjut, penurunan daya beli berpotensi mengurangi insentif produksi, memperlambat investasi di sektor pertanian, dan memengaruhi kesejahteraan petani.

Karena itu, stabilisasi harga hasil panen, efisiensi biaya produksi, serta penguatan akses pasar dan perlindungan sosial menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional pada Juni 2026 tercatat sebesar 127,65 atau turun sebesar 0,06 persen dibandingkan Mei 2026.

Penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,49 persen, atau lebih rendah dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang naik sebesar 0,55 persen.

“Penurunan NTP ini terjadi karena indeks harga yang diterima oleh petaninya naik 0,49 persen. Naiknya itu lebih rendah jika dibandingkan dengan peningkatan indeks harga yang dibayar oleh petani,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Jumpa Pers Berita Resmi Statistik, di Jakarta, Rabu (1/7).

Ateng menjelaskan, komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang diterima petani nasional (lt), antara lain karet, gabah, bawang merah, dan jagung.

Sementara itu, komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan indeks harga yang dibayar petani (Ib), antara lain bawang merah, bensin, bawang putih, dan beras.

Berdasarkan subsektor NTP, Ateng menjelaskan hanya subsektor tanaman pangan (NTPP) yang mengalami kenaikan yaitu sebesar 0,75 persen.

Sementara itu, sisanya mengalami penurunan, di antaranya subsektor hortikultura (NTPH) yang turun 0,42 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) turun 0,42 persen, dan subsektor peternakan (NTPT) turun 1,85 persen.

Kemudian, subsektor perikanan (NTNP) turun 0,21 persen, subsektor nelayan (NTPR) turun 0,01 persen, dan subsektor pembudidaya ikan (NTPi) turun 0,53 persen.

Selanjutnya, BPS juga melaporkan rata-rata harga beras di tingkat penggilingan, grosir, serta eceran.Rata-rata harga beras di penggilingan pada Juni 2026 meningkat 0,97 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan meningkat sebesar 6,96 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Sementara itu, tingkat inflasi beras di tingkat grosir pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,82 persen secara bulanan dan sebesar 5,12 persen secara tahunan. Sementara di tingkat eceran terjadi inflasi sebesar 0,45 persen secara secara bulanan dan sebesar 3,98 persen secara tahunan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Olahraga
Madura United Bersuka Cita ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.