BRIN: Sejumlah Perairan Indonesia Memasuki Fase Awal Peningkatan Produktivitas Laut
📅 Senin, 08 Jun 2026, 15:25 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi fenomena laut yang berpotensi meningkatkan produktivitas perairan dan menunjang hasil tangkapan ikan di sejumlah wilayah Indonesia. Fenomena tersebut berupa upwelling atau pengangkatan massa air kaya nutrien dari lapisan bawah laut ke permukaan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, mengatakan, sinyal awal upwelling mulai teridentifikasi di perairan Samudera Hindia selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Meski demikian, intensitas fenomena tersebut masih berada pada kategori lemah hingga sedang.
“Berdasarkan prediksi parameter oseanografi periode 1–7 Juni 2026, sinyal awal keaktifan upwelling mulai terlihat di beberapa wilayah perairan Indonesia. Namun, intensitasnya masih berada pada kategori lemah hingga sedang dan belum merata secara spasial,” kata Widodo dalam keterangannya dikutip dalam laman, brin.go.id, Senin (8/6).
Menurutnya, indikasi upwelling ditandai dengan penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, keberadaan arus vertikal ke atas, serta meningkatnya konsentrasi klorofil. Kondisi tersebut menunjukkan mulai terangkatnya massa air kaya nutrien dari lapisan dalam ke permukaan laut.
Fenomena upwelling memiliki peran penting dalam menjaga produktivitas ekosistem laut. Nutrien yang terangkat ke permukaan dapat merangsang pertumbuhan fitoplankton yang menjadi dasar rantai makanan bagi berbagai jenis ikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena itu, wilayah yang mengalami upwelling umumnya memiliki tingkat produktivitas perairan yang lebih tinggi. Kondisi tersebut sering kali berkontribusi terhadap peningkatan potensi sumber daya perikanan dan hasil tangkapan nelayan.
Selain di koridor selatan Indonesia, BRIN juga menemukan indikasi peningkatan produktivitas perairan di beberapa wilayah lain. Di antaranya Laut Banda bagian selatan dan tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, serta kawasan selatan Selat Makassar menuju Laut Flores.
Widodo menjelaskan peningkatan produktivitas di wilayah tersebut tidak selalu disebabkan oleh proses upwelling pantai klasik. Sejumlah faktor lain seperti pencampuran massa air, pusaran arus laut, pengaruh pasang surut, hingga interaksi arus laut juga turut berperan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Laut Arafura, misalnya, peningkatan produktivitas diduga dipengaruhi proses pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut. Sementara di perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, kondisi tersebut diperkirakan berkaitan dengan interaksi front oseanografi dan pengaruh massa air dari Teluk Benggala.
Sementara itu, beberapa wilayah lain belum menunjukkan tanda-tanda upwelling yang signifikan. Wilayah seperti Selat Malaka, Selat Karimata, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Halmahera, serta perairan Pasifik barat di utara Papua masih didominasi perairan yang relatif hangat.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, BRIN menilai awal Juni 2026 merupakan fase awal atau onset upwelling musim timur 2026. Aktivitas fenomena tersebut diperkirakan masih akan berkembang dan perlu dipantau hingga Juli dan Agustus mendatang.
"Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui potensi penguatan fenomena tersebut. Informasi mengenai perkembangan upwelling juga penting untuk mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang lebih adaptif dan berkelanjutan," ujar dia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!