Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

65,8 Persen Garis Pantura Jawa Alami Abrasi, Peneliti BRIN Ungkap Penyebabnya!

📅 Selasa, 05 Mei 2026, 18:26 WIB | Oleh:
65,8 Persen Garis Pantura Jawa Alami Abrasi, Peneliti BRIN Ungkap Penyebabnya! Doc: Foto: BRIN
Ket. Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tubagus Solihuddin, dalam Expose Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pantura Tangguh, Indonesia Lestari untuk Integrasi Sains, Inovasi, dan Ketahanan Pesisir”, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/4).

JAKARTA - Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tubagus Solihuddin mengatakan sebanyak 65,8 persen area garis Pantai Utara (Pantura) Jawa mengalami erosi.

Dalam keterangan di Jakarta, Selasa (5/5), Tubagus menyebutkan erosi tersebut diakibatkan oleh pembangunan permukiman dan pusat kegiatan ekonomi yang berjalan sangat masif akibat tingginya tekanan demografi, sehingga berujung pada ekstraksi sumber daya laut dan pesisir.

"Jadi, 84 persen Pantai Utara Jawa itu tersusun oleh endapan pluvial dan endapan delta. Secara geologi endapan yang menyusun Pantai Utara Jawa itu masih unconsolidated. Masih belum terkompaksi dengan kuat sehingga sangat mudah mengalami erosi dan pemampatan," katanya.

Tubagus memaparkan analisis perubahan garis pantai menggunakan Citra Satelit Sentinel selama periode 2000 hingga 2024 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Ia merinci, perubahan garis pantai didominasi oleh laju erosi sebesar 65,8 persen, sementara tingkat akresi (penambahan daratan) hanya berada di angka 34,2 persen.

Dia juga menyoroti sebuah anomali dari data pemantauan tersebut, di mana erosi yang masif justru terjadi di lingkungan delta yang secara alamiah merupakan area sedimentasi.

"Secara morfologi, Pantai Utara Jawa itu didominasi oleh pantai berelief rendah atau pantai dataran rendah dengan elevasi ketinggian kurang dari 10 meter. Dan itu menempati 83 persen dari panjang seluruh Pantai Utara Jawa," ucap Tubagus menjelaskan.

Kondisi ini sangat berkaitan erat dengan aktivitas modifikasi di daerah hulu, seperti kanalisasi, pembelokan arah sungai, dan pembangunan bendungan, yang pada akhirnya memutus suplai sedimen ke wilayah muara pesisir.

Dampak dari modifikasi antropogenik ini terekam jelas di berbagai titik. Di Tanjung Pontang, Serang, daratan seluas 1,72 kilometer persegi telah lenyap tererosi akibat pembelokan aliran Sungai Ciujung Baru.

Di kawasan Pantai Bahagia, Muara Gembong, Bekasi, air laut telah merangsek masuk hingga empat kilometer ke daratan, menenggelamkan infrastruktur publik secara permanen serta merendam lebih dari 1.000 hektare tambak warga.

Selain Bekasi, hal serupa juga tercatat di Legonkulon, Subang, di mana intrusi air laut sejauh dua kilometer telah merendam 700 hektare tambak. Abrasi juga mengerosi jalan desa sepanjang 500 meter hingga satu kilometer di Krangkeng, Indramayu.

Khusus di wilayah Demak, Tubagus memberikan catatan historis bahwa wilayah tersebut pada abad 15-16 merupakan perairan Selat Muria yang kemudian tertutup sedimentasi menjadi daratan. Kini, air laut kembali masuk sejauh lima hingga enam kilometer ke daratan Demak, menelan sawah dan kawasan permukiman.

Hal ini diperparah dengan kenaikan muka air laut (Sea Level Rise/SLR) dan penurunan muka tanah (Land Subsidence).

Berdasarkan pemodelan data altimetri (1993-2025), tren kenaikan muka air laut di Pantura mencapai rata-rata 0,41 hingga 0,42 sentimeter per tahun, mengakibatkan akumulasi kenaikan hingga 15,5 sentimeter dalam kurun waktu 32 tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Warga Russia Menjerit! Pemb...
Luar Negeri
Belarus Cemas Jumlah Latiha...
Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

Ada Event Lari Lintas Alam, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup Seminggu

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.