Bulan Juni, Kisah Juno dan Warisan Romawi yang Tak Pernah Hilang
📅 Kamis, 04 Jun 2026, 07:10 WIB | Oleh: Haryo BronoKompleksitas Juno terletak pada kontradiksi perannya. Ia adalah pelindung institusi pernikahan, namun pernikahannya sendiri dipenuhi badai akibat petualangan cinta Jupiter dengan wanita-wanita fana. Rasa cemburu dan amarah Juno sering kali menjadi motor penggerak kisah-kisah epik mitologi. Namun, di balik kemarahannya, bangsa Romawi melihat Juno sebagai lambang ketahanan, martabat, dan pelindung kesucian ikatan domestik.
“The June Bride”
Pernahkah memperhatikan mengapa di film-film Barat atau bahkan dalam tren pernikahan modern, bulan Juni sering kali menjadi bulan favorit untuk menggelar pernikahan? Istilah June Bride (Pengantin Juni) bukan sekadar trik pemasaran industri pernikahan modern; ia adalah warisan spiritual Roma kuno.
Sebagai dewi pernikahan (Juno Pronuba) dan dewa persalinan (Juno Lucina), bangsa Romawi percaya bahwa menikah di bulan Juni akan mendatangkan berkah yang melimpah, kesuburan, serta keharmonisan yang langgeng.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebaliknya, mereka sangat menghindari menikah di bulan Mei. Mengapa? Karena Mei dikuasai oleh atmosfer Lemuria sebuah festival kuno untuk menenangkan roh-roh leluhur yang gelisah dan melakukan pembersihan diri. Menikah di bulan Mei dianggap tabu dan membawa sial.
Maka, ketika kalender berganti dari Mei ke Juni, atmosfer di Roma kuno berubah drastis menjadi penuh sukacita. Suara musik pernikahan menggema di sudut-sudut kota, kelopak bunga melati disebar, dan pasangan muda berbondong-bondong membawa persembahan ke kuil Juno, berharap sang Ratu bersedia menjaga api cinta mereka agar tidak pernah padam.
Dari Kuil Suci Menjadi Mata Uang
Sebaiknya Anda baca juga:
Keliru jika menganggap Juno hanya mengurusi urusan domestik perempuan dan dapur. Dalam sejarah Romawi, Juno juga memegang peran politis dan militer yang sangat vital. Salah satu gelarnya yang paling terkenal adalah Juno Moneta sang dewi yang memperingatkan atau menasihati.
Menurut legenda sejarah pada abad ke-4 SM, kota Roma nyaris lumat akibat serangan senyap pasukan suku Gaul di malam hari. Pasukan musuh berhasil memanjat benteng Capitolium tanpa ketahuan oleh penjaga maupun anjing penjaga. Namun, ketika mereka mendekati kuil Juno, kawanan angsa suci yang dipelihara di halaman kuil mulai bersuara bising dan mengepakkan sayap dengan liar.
Suara bising angsa-angsa Juno berhasil membangunkan panglima Marcus Manlius dan para prajurit Romawi, yang kemudian berhasil memukul mundur musuh. Sebagai bentuk rasa syukur, bangsa Romawi mendirikan tempat pembuatan uang logam (mint) pertama mereka tepat di samping kuil Juno Moneta.
Dari sinilah kebahasaan modern lahir: kata Moneta diserap ke dalam bahasa Prancis Kuno menjadi monoie, yang kemudian bertransformasi menjadi kata money (uang) dan mint (tempat cetak uang) dalam bahasa Inggris. Jadi, setiap kali bertransaksi hari ini, ada jejak nama Juno yang disebut secara tidak langsung melalui konsep keuangan global.
Menolak Lupa
Waktu telah mengikis kuil-kuil marmer di Roma. Dewa-dewi Olympus telah lama turun takhta, bertransformasi dari objek sembahan yang ditakuti menjadi lembaran cerita fiksi, buku sejarah, dan pop kultur. Namun, ada keindahan tersendiri dari cara sejarah bekerja dan menyelinap dalam keseharian masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!