Bulan Juni, Kisah Juno dan Warisan Romawi yang Tak Pernah Hilang
📅 Kamis, 04 Jun 2026, 07:10 WIB | Oleh: Haryo BronoSAAT ini perjalanan tahun 2026 telah memasuki bulan Juni bulan keenam dalam penanggalan Masehi. Namun banyak masyarakat modern yang tidak tahu dari mana asal nama ini berasal, dan melihatnya hanya sebagai sebuah bulan antara Mei dengan Juli.
Bagi masyarakat di belahan bumi utara bulan ini adalah adalah gerbang menuju paruh kedua tahun, waktu untuk bersiap menyambut musim panas yang benderang. Di Eropa antara Juni hingga Agustus umumnya menghabiskan waktu dengan aktivitas luar ruangan untuk merayakan cuaca hangat, hari yang lebih panjang, dan liburan musim panas.
Sementara bagi masyarakat Indonesia yang berada di garis lintang khatulistiwa mulai akrab dengan embusan angin muson yang kering. Di dunia, Juni adalah waktu untuk evaluasi, liburan sekolah, atau sekadar menikmati hari-hari yang berjalan lebih lambat.
Namun, jika bersedia mengikis lapisan angka-angka digital di ponsel dan memutar waktu kembali ke ribuan tahun lalu, akan menemukan bahwa Juni memiliki jiwa. Ia lahir dari sebuah masa di mana manusia menggantungkan nasibnya pada konstelasi bintang dan persona para dewa.
Di balik nama “Juni”, ada bayang-bayang sesosok wanita agung yang mengenakan mahkota emas, memegang tongkat kekuasaan, dan dikelilingi burung merak. Ia adalah Juno, sang Ratu Para Dewa dalam mitologi Romawi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kekacauan Kalender Kuno dan Lahirnya Junius
Untuk memahami bagaimana nama Juno melekat pada bulan keenam, harus melihat bagaimana bangsa Romawi kuno memahami waktu. Pada awalnya, kalender Romawi yang diciptakan oleh raja pertama mereka, Romulus, hanya memiliki 10 bulan dan dimulai pada bulan Maret (Martius). Dalam sistem kuno ini, bulan Juni disebut Junius dan menempati posisi bulan keempat.
Baru pada masa pemerintahan Raja Numa Pompilius (sekitar 713 SM), bulan Januari dan Februari ditambahkan di awal tahun, menggeser Juni menjadi bulan keenam seperti yang dikenal seperti sekarang ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyair besar Romawi, Ovidius, dalam kitabnya Fasti sebuah puisi panjang yang menjelaskan asal-usul kalender Romawi melakukan “wawancara imajiner” dengan para dewi untuk mencari tahu dari mana nama Junius berasal.
Meskipun ada perdebatan kecil apakah nama itu berasal dari kata iuniores (kaum muda, sebagai penghormatan Romulus kepada pemuda negara), teori yang paling kuat dan diyakini masyarakat Romawi adalah penghormatan langsung kepada Iuno (Juno). Juni adalah bulan yang disakralkan total untuk sang Ratu Olympus.
Hati yang Terluka
Dalam mitologi Romawi (yang banyak menyerap mitologi Yunani, di mana Juno setara dengan Hera), Juno adalah figur yang sangat kompleks, perkasa, sekaligus tragis. Sebagai istri sekaligus saudara perempuan dari Jupiter (Raja Para Dewa), ia memegang takhta tertinggi di Capitalium.
Jika Jupiter adalah dewa petir yang menguasai hukum langit dan kosmos, maka Juno adalah dewa yang menjaga fondasi paling intim dari peradaban manusia: pernikahan, persalinan, kesetiaan, dan perlindungan bagi kaum perempuan.
Dalam karya seni klasik, Juno kerap digambarkan sebagai wanita paruh baya yang anggun namun tegas. Ia mengendarai kereta yang ditarik oleh burung merak simbol kemewahan sekaligus kewaspadaan. Pola “mata” pada bulu merak dianggap sebagai lambang pengawasan Juno yang tak pernah tidur, sebuah metafora dari sifatnya yang selalu mengawasi perselingkuhan suaminya, Jupiter.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!