Wamenkeu Klaim Ekonomi RI Saat Ini Masih Jauh dari Situasi Krisis seperti Tahun 1998
📅 Senin, 25 Mei 2026, 13:12 WIB | Oleh: SriyonoSebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi, konsumsi rumah tangga juga tumbuh tinggi yakni 5,52 persen pada triwulan I 2026.
Di sisi lain, pengeluaran pemerintah juga tumbuh tinggi sebesar 22 persen. Hal ini, ujar Juda, menunjukkan kebijakan fiskal masih bekerja dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa APBN memiliki dua fungsi sekaligus, yakni sebagai shock absorber dan engine of growth.
Sebagai shock absorber, APBN berfungsi memberikan topangan ketika terjadi tekanan terhadap perekonomian, termasuk menjaga stabilisasi harga energi di tengah kenaikan harga minyak dunia serta menjaga harga pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara sebagai engine of growth, APBN digunakan untuk mendorong percepatan belanja pemerintah sejak awal tahun agar pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung lebih merata di seluruh kuartal pada 2026. Hal ini berbeda dengan pola sebelumnya yang cenderung menumpuk pada triwulan IV.
Ia menambahkan hingga April 2026 pendapatan negara mencapai Rp918 triliun atau tumbuh 13,3 persen, sedangkan penerimaan pajak tumbuh 16,1 persen. Di sisi lain, belanja negara tumbuh 34,3 persen dan masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026.
Meski belanja negara meningkat cukup tinggi, Juda mengatakan defisit APBN tetap terkendali di level 0,64 persen terhadap PDB atau turun dibandingkan posisi Maret 2025 sebesar 0,92 persen. Di samping itu, keseimbangan primer juga tercatat surplus pada April 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan APBN tetap bersifat ekspansif namun terukur di tengah situasi global yang tidak mudah karena di saat bersamaan tetap mampu menjaga disiplin fiskal di tengah kenaikan harga minyak dunia.
“Di dalam situasi global yang tidak mudah, maka kita harus menjaga dua-duanya. Bagaimana APBN bisa menjadi pendorong perekonomian, pada saat yang sama juga harus menjaga disiplin fiskal di tengah kenaikan harga minyak. Dan ini, dua-duanya berhasil, tampak dari growth yang tinggi, inflasi yang terjaga, defisit juga yang terjaga,” kata Juda.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!