Kemenbud Tetapkan Gua Metanduno di Sulteng sebagai Cagar Budaya Nasional
📅 Senin, 13 Jul 2026, 18:10 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menetapkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara, sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional. Seluruh tahapan sidang penetapan status oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional telah rampung dilaksanakan pada pekan lalu.
"Penetapan status sidangnya sudah selesai minggu lalu. Nah, tinggal diumumkan, insyaallah awal Agustus ya sebagai cagar budaya nasional," kata Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon, Senin (13/7).
Ia mengapresiasi, setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkabori, dan para pemangku adat. Termasuk peneliti, komunitas budaya, serta seluruh masyarakat yang secara lintas generasi merawat kawasan cadas tersebut.
Melalui penetapan status ini, ia menilai Indonesia kembali membuka babak krusial dalam sejarah umat manusia. Sebab, situs tersebut menyimpan salah satu bukti peradaban tertua di dunia.
Ia juga mengungkapkan situs Liang Metanduno menjadi sorotan arkeologi global setelah publikasi hasil riset lintas perguruan tinggi internasional. Penelitian melibatkan perguruan tinggi dalam negeri bersama Griffith University Australia serta Balai Pelestarian Kebudayaan pada 22 Januari 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Hasil riset tersebut secara resmi dicatatkan dalam Guinness Book of Records 2026. Sebagai lukisan gua non-figuratif tertua di dunia (the world's oldest non-figurative cave painting)," ujar dia.
Ia menjelaskan pengujian saintifik menggunakan laser ablation uranium-series membuktikan bidang pigmen visual purba di gua tersebut memiliki usia. Ukurannya mencapai 14 cm kali 10 cm dengan usia sedikitnya 67.800 tahun berdasarkan hasil penelitian tersebut terbaru kini.
Temuan ini sekaligus memecahkan rekor dunia sebelumnya yang berada di Leang Karampuang, Maros Pangkep, Sulawesi Selatan tersebut kini. Dengan usia 51.200 tahun, situs itu menjadi yang tertua berdasarkan penelitian terbaru para arkeolog internasional tersebut hingga kini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, temuan di Muna ini tercatat 1.100 tahun lebih tua dari batas minimum cap tangan purba Maltravieso, Spanyol. Temuan ini dikaitkan dengan Neanderthal, serta jauh melampaui usia lukisan dinding Gua Chauvet (30.000-32.000 tahun) dan Lascaux (17.000 tahun).
Ia menilai bukti arkeologis modern (Homo Sapiens) di Muna yang memiliki bentang sejarah melewati 2.700 generasi. Hal ini sangat berpotensi menantang balik dominasi teori migrasi tunggal Out of Africa.
"Selama ini ilmu pengetahuan ada satu pengaruh dari kolonialisme, mereka selalu melihat kita ini relatif lebih muda dan pusatnya ada di Eropa sana. Dengan bukti arkeologis yang sangat kuat ini, kita harus berani menantang teori-teori lama itu," ucap dia.
Menurut dia, pola migrasi manusia bisa saja berlangsung dua arah atau multiple traffic. Termasuk adanya potensi teori Out of Nusantara maupun Out of Sulawesi.
Kemenbud berkomitmen membangun Pusat Informasi Lukisan Purba di Kepulauan Muna melalui kantor kementerian di Sulawesi Tenggara. Tujuannya untuk mengoptimalkan perlindungan terhadap ancaman degradasi fisik akibat perubahan iklim (climate change).
Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, menilai Liangkobori memiliki nilai sejarah sekaligus potensi wisata budaya. "Pemerintah daerah ingin mengembangkan Liangkobori sebagai pusat penelitian, edukasi budaya, dan destinasi wisata berbasis budaya," ujar dia. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!