Krisis Pangan Memuncak, Kelaparan Kembali Hantam Wilayah Gaza
📅 Jumat, 22 Mei 2026, 17:19 WIB | Oleh: Deri Henriawan
Doc: WFP/Ali Jadallah
GAZA - Khairi Harara telah menunggu berjam-jam di bawah terik matahari sebelum akhirnya mencapai bagian depan antrean.
Pria berusia 75 tahun itu bertumpu pada tongkat kayu, dan saat meninggalkan tempat itu, dia membawa sebuah panci kecil berisi sup lentil yang, menurutnya, harus cukup untuk memberi makan sembilan orang selama sehari.
"Saya tidak tahu jatah makanan ini akan diberikan untuk siapa," katanya. "Jumlahnya sangat sedikit."
Harara, yang mengungsi dari kamp pengungsi Shati di sebelah barat Gaza City, mengatakan bahwa banyak orang yang mengantre di belakangnya tidak pernah berhasil mencapai bagian depan antrean. "Kalau datang terlambat, Anda pulang tanpa membawa apa pun."
Dapur umum tempat dia mengambil makanannya berafiliasi dengan World Central Kitchen (WCK), salah satu organisasi nirlaba kemanusiaan terbesar yang masih beroperasi di Gaza. Namun, organisasi itu pun terpaksa mengurangi layanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 14 Mei, WCK mengumumkan akan mengurangi jumlah makanan hingga setara dengan distribusi sebelum gencatan senjata akibat tekanan finansial yang terus meningkat.
Sejak konflik Israel-Hamas pecah pada 2023, World Central Kitchen telah menghabiskan lebih dari setengah miliar dolar AS untuk bantuan pangan di Gaza dan pada puncaknya mendistribusikan sekitar satu juta makanan hangat per hari.
Organisasi yang terutama bergantung pada donasi pribadi itu menyerukan pemerintah dan mitra internasional agar menyediakan pendanaan yang lebih stabil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengurangan bantuan tersebut berdampak luas pada masyarakat yang sudah berada di ambang batas kemampuan bertahan hidup. Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/UNOCHA) bulan ini memperingatkan bahwa kekurangan dana telah menurunkan jumlah makanan harian yang disediakan dapur umum dari sekitar 1,8 juta porsi pada Februari menjadi sekitar 1 juta porsi saat ini.
Akibatnya, satu dari lima keluarga kini hanya makan sekali sehari, dengan sebagian orang dewasa memilih tidak makan agar anak-anak mereka bisa makan.
Di Maghazi, Gaza tengah, Samah Hamad (37) mengatakan bahwa dia dan kedua anaknya kini sepenuhnya bergantung pada titik distribusi makanan di dekat tempat tinggal mereka. Suaminya tewas dalam konflik tersebut.
"Dapur umum menyediakan satu kali makan sehari, dan kadang itu bahkan tidak cukup untuk seorang anak," katanya sambil memegang wadah plastik yang baru diterimanya. Menurut Hamad, makanan yang diberikan hampir selalu sama -- kacang-kacangan dan lentil. "Saat ada nasi dan daging, itu terasa seperti momen langka bagi anak-anak."
Menurunnya bantuan pangan mencerminkan pembatasan yang lebih luas terhadap aliran bantuan ke Gaza. Ismail Thawabta, kepala kantor media pemerintah yang dikelola Hamas, mengatakan bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober tahun lalu, sekitar 48.600 truk telah memasuki Gaza dari total 131.400 truk yang diharapkan masuk.
Pada pekan-pekan pertama Mei saja, katanya, hanya sekitar seperempat dari pengiriman bantuan yang diharapkan yang berhasil masuk.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!