Janice dan Alexandra, Kebanggaan Asia Tenggara di Panggung Roland Garros
📅 Rabu, 20 Mei 2026, 08:28 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra“Saya tidak terlalu memikirkan tekanan itu. Saya tahu selama terus bekerja keras dan memberikan yang terbaik, Indonesia selalu mendukung saya. Itu sesuatu yang membuat saya bangga,” ujar Janice menjelang laga Billie Jean King Cup di New Delhi, April lalu.
Kebangkitan tenis putri Asia Tenggara tidak hanya berhenti pada Alexandra dan Janice. Dua petenis Thailand, Lanlana Tararudee dan Mananchaya Sawangkaew, juga mulai mendekati 100 besar dunia.
Alexandra mengaku bangga menjadi bagian dari generasi baru tenis Asia Tenggara tersebut.
“Saya sangat bangga menjadi bagian dari kelompok ini. Kami tumbuh bersama sejak kecil,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Asia Tenggara punya daya tarik tersendiri. Humor kami mirip dan ada banyak kesamaan budaya. Ada rasa bangga yang sama terhadap kawasan kami.”
Perjalanan Alexandra menuju level elite dimulai sejak usia 12 tahun ketika ia meninggalkan Filipina untuk bergabung dengan Rafael Nadal Academy di Mallorca, Spanyol. Pada 2022, ia menjuarai nomor tunggal putri junior US Open.
Musim lalu, setelah menembus 50 besar dunia, Alexandra juga menjadi petenis pertama yang berlatih bersama Rafael Nadal setelah sang legenda pensiun.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Rasanya luar biasa. Itu pertama kalinya saya berlatih dengan Rafa dan saya sangat gugup. Latihannya juga sangat berat secara fisik. Bisa mengatakan pernah hitting bersama Rafa adalah sesuatu yang gila,” kata Alexandra kepada The National.
Sebagai petenis kidal seperti Nadal, Alexandra mulai menunjukkan mentalitas pantang menyerah khas idolanya. Setelah memenangi laga tiga set yang melelahkan melawan Magdalena Frech di Italian Open awal bulan ini, ia berkata di Tennis Channel: “Saya mengatakan kepada diri sendiri bahwa saya belum cukup lelah.”
Meski demikian, Alexandra mengakui dirinya masih berusaha membangun hubungan dengan lapangan tanah liat, permukaan yang identik dengan Nadal dan Roland Garros.
“Saya masih membangun chemistry dengan clay. Ini musim pertama saya benar-benar bermain di turnamen level tinggi,” katanya di Roma.
Berbeda dengan Alexandra, perjalanan Janice berkembang lewat sistem olahraga kampus di Amerika Serikat. Ia sempat menimba ilmu di University of Oregon sebelum melanjutkan tiga tahun di Pepperdine University di Malibu.
Pengalaman Janice di lapangan tanah liat juga masih minim. Ia bahkan baru memainkan pertandingan level tur profesional di lapangan tanah liat pada April lalu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!