Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kilas Balik Bandara A.A. Bere Tallo: Jalur Penerbangan Internasional Pertama di Belu NTT

📅 Senin, 29 Jun 2026, 13:15 WIB | Oleh:
Kilas Balik Bandara A.A. Bere Tallo: Jalur Penerbangan Internasional Pertama di Belu NTT Doc: Kemendagri
Ket. Menteri Dalam Negeri menyatakan Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan transportasi udara dunia.

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri menyatakan Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki nilai sejarah penting dalam perkembangan transportasi udara dunia. Kota tersebut pernah menjadi penghubung Australia dan Eropa pada awal era penerbangan modern serta menjadi salah satu titik transit dalam penerbangan jarak jauh pertama dari Inggris menuju Australia pada ajang Great Air Race 1919.

Pernyataan itu disampaikan saat mengunjungi Bandar Udara A. A. Bere Tallo, Kabupaten Belu, Minggu (28/6). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Dalam Negeri menerima dokumentasi sejarah mengenai peran Atambua sebagai jalur penghubung antara Eropa dan Australia yang diserahkan oleh Wali Kota Darwin, Australia, Peter Styles.

Dokumen tersebut menjelaskan bahwa Atambua menjadi pemberhentian terakhir sebelum pesawat melanjutkan perjalanan menuju Darwin, Australia. Fakta sejarah itu memperlihatkan posisi strategis Atambua dalam rute penerbangan internasional pada masa awal berkembangnya industri penerbangan.

"Atambua sudah menjadi titik transit untuk penerbangan pertama, setelah industri penerbangan pesawat ditemukan pada tahun 1903," kata Menteri Dalam Negeri.

Ia menjelaskan, pesawat pertama kali ditemukan oleh Wright Bersaudara dari Amerika Serikat pada 1903. Sekitar 16 tahun kemudian, tepatnya pada 1919, penerbangan bersejarah dari London menuju Darwin dilakukan dengan melewati sejumlah titik persinggahan di berbagai negara, termasuk beberapa wilayah di Indonesia.

Dalam rute tersebut, Indonesia memiliki sekitar empat titik transit yang menjadi lokasi pemberhentian pesawat sebelum melanjutkan perjalanan. Selain Jakarta, Atambua menjadi salah satu lokasi persinggahan penting dalam lintasan penerbangan tersebut.

"Sejarah sudah memberi tahu kita bahwa Atambua adalah tempat yang monumental dan bersejarah untuk perjalanan ini," ujarnya.

Menurutnya, catatan sejarah tersebut menjadi modal penting untuk mempererat hubungan Indonesia dan Australia, khususnya antara Atambua dengan Kota Darwin. Hubungan kedua wilayah dinilai telah terjalin sejak awal perkembangan penerbangan modern sehingga patut terus dijaga dan dikembangkan.

Ia menambahkan, nilai sejarah tersebut juga dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengembangan pariwisata dan penguatan kerja sama lintas negara di masa mendatang. Dokumentasi sejarah yang masih tersimpan di Darwin dinilai menjadi bukti eratnya hubungan kedua wilayah sejak lebih dari satu abad lalu.

"Terima kasih banyak kepada Wali Kota Darwin, masih mengingat dan menghafal perjalanan bersejarah ini, bahwa Atambua juga dimasukkan dalam sejarah Darwin, karena perjalanan tersebut," tandasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Daftar Produk Usang Apple, Ada iPhone X dan MacBook Pro 15, Siap-siap Sulit Layanan Perbaikan!
    Preview komentar:
    Kami pakai produk Apple bukan utk diperbaiki, rusak ...
  • Sejahterakan Petani lewat Percepatan Hilirisasi Pangan
    Preview komentar:
    Langkah strategis pemerintah dalam mendorong percepatan hilirisasi pangan ...
  • BNI Perkuat Tata Kelola SDM lewat LSP dan Sertifikasi ISO
    Preview komentar:
    Langkah strategis BNI dalam mengintegrasikan lisensi resmi dari ...
Nasional
KPK Periksa Pejabat Bulog, ...
Luar Negeri
Korban Tewas Tembus 2.100, ...
Presiden: Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,40 Persen, Turun Dari 2026

Presiden: Defisit RAPBN 2027 Ditargetkan 2,40 Persen, Turun Dari 2026

14 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.