Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Diprediksi Melemah Seiring Risiko Geopolitik dan Tren Inflasi

📅 Rabu, 13 Mei 2026, 13:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Diprediksi Melemah Seiring Risiko Geopolitik dan Tren Inflasi Doc: ANTARA
Ket. Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada Rabu pagi, bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp17.515 per dollar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.529 per dollar AS.

Meski begitu, analis Bank Woori Saudara, Rully Nova memperkirakan rupiah pada perdagangan hari ini, berpeluang melemah seiring risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi global.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.525 - Rp17.575, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak, index dollar dan yield obligasi pemerintah AS akibat risiko geopolitik dan tren kenaikan inflasi,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu (13/5).

Mengutip Sputnik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertimbangkan secara serius untuk melanjutkan aksi militer di Timur Tengah..

Fox News melaporkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan Operation Project Freedom guna memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dengan peran militer yang diperluas.

Trump semakin frustrasi terhadap sikap Iran dalam negosiasi untuk menyelesaikan konflik, dan kini lebih serius mempertimbangkan dimulainya kembali operasi militer skala besar dibanding beberapa pekan terakhir. Sumber-sumber mengatakan bahwa Trump mulai kehilangan kesabaran karena Selat Hormuz masih ditutup.

Menurut sumber tersebut, kini terdapat beberapa kelompok di dalam pemerintahan AS. Sebagian mendukung pendekatan keras dengan mengusulkan pengeboman terarah secara berkelanjutan terhadap Iran untuk melemahkan posisi Teheran, sementara kelompok lain tetap mendorong cara diplomatik untuk menyelesaikan konflik.

Adapun terkait inflasi, International Monetary Fund (IMF) telah memperkirakan pertumbuhan global pada 2026 akan melambat menjadi 2,5 persen, sementara inflasi meningkat menjadi 5,4 persen, dengan asumsi konflik yang terjadi akan berlangsung panjang.

Melihat sentimen domestik, semakin sempitnya ruang fiskal menciptakan bagi pemerintah untuk memutuskan apakah menurunkan skala prioritas atau melonggarkan defisit lebih dari 3 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • UU Reforma Agraria Ditantang Bereskan Akar Konflik Tanah
    Menterinya aja kena OTT KPK :D
  • Menekraf: Aplikasi Digital Kini Jadi Denyut Nadi Aktivitas Masyarakat, Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
    Membaca pemaparan komprehensif ini membuat saya semakin optimis ...
  • Ekonomi Kreatif dan UMKM Jakarta Mulai Andalkan Cetak 3D untuk Produksi Skala Kecil
    Mengetahui fakta bahwa penggunaan filamen berbasis PLA yang ...
  • Industri Baterai Dipacu, Transisi Energi dan Ekonomi Digital Jadi Kunci
    Ulasan yang sangat komprehensif dari Koran Jakarta mengenai ...
  • Bos Perusahaan AI Dunia Ingin Perlambat Pengembangan, Persaingan AS-Tiongkok Jadi Hambatan
    Sangat disayangkan melihat bagaimana niat baik untuk mengkaji ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Bantu Petani Luwu, Kementan...
Ekonomi
Rupiah Masih Rentan - 16 Se...
Megapolitan
Mereka Bermain Tanah Akhirn...

Kriya Harus Mampu Memanfaatkan Teknologi

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Kriya Harus Mampu Memanfaat...

Apakah Anak Zaman Sekarang Mengenal Kimpul?

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Anak Zaman Sekarang ...

Perhatikan Cuaca Jakarta Hari Ini

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perhatikan Cuaca Jakarta Ha...
Olahraga
Brentford dan Fulham  Mera...
Advertisement
AS Akui Telah Kerahkan Senjata di Luar Angkasa

AS Akui Telah Kerahkan Senjata di Luar Angkasa

16 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.