Kriya Harus Mampu Memanfaatkan Teknologi
📅 Rabu, 16 Sep 2026, 07:18 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Para pelaku industri kerajinan rakyat (kriya) harus mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan hasil. Inilah salah satu tujuan pameran kerajinan The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026 yang mengangkat tema “Technocraft.” Tema ini mendorong para perajin menjadikan teknologi sebagai penggerak transformasi industri kriya.
Pameran tersebut akan digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) 7-11 Oktober. “Teknologi bukan untuk menggantikan tangan perajin, tetapi menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas tanpa meninggalkan nilai karya,” kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) Muchsin Ridjan di Jakarta, Selasa.
Dia menyatakan Inacraft 2026 mengangkat teknologi sebagai salah satu penggerak transformasi industri kriya. Perkembangan teknologi, kata Muchsin, tidak lagi terbatas pada proses produksi, tetapi telah masuk ke berbagai rantai industry. Itu mulai dari pengembangan material, desain, pemasaran, perdagangan digital, serta akses ke pasar internasional.
Menurut Muchsin, tema Technocraft sekaligus menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dari perubahan tersebut. Para Youthpreneurs didorong untuk memanfaatkan teknologi guna mengembangkan produk kriya yang inovatif, efisien, memiliki nilai tambah, serta tetap mempertahankan identitas budaya Indonesia.
Dia menambahkan, teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kemampuan perajin dan pelaku usaha, bukan menggantikan kreativitas serta keterampilan manusia. Konsep Technocraft mencakup pemanfaatan teknologi dalam pengembangan material, proses produksi, desain, pemasaran, dan inovasi produk. Dengan pendekatan tersebut, teknologi diharapkan dapat berjalan beriringan dengan kekayaan tradisi dan kearifan lokal.
Sementara itu, Project Officer Inacraft 2026 Syamsul Huda menyebutkan tema Technocraft merupakan respons terhadap perkembangan teknologi yang semakin memengaruhi industri kriya nasional. Penerapan teknologi akan diperkenalkan melalui berbagai pendekatan. Antara lain pemanfaatan limbah sawit sebagai bahan lilin batik, modernisasi proses tenun, serta pengembangan pengolahan keramik.
Inovasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah tanpa menghilangkan karakter serta keterampilan tradisional. Untuk memperkuat aspek riset dan inovasi, ASEPHI berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Gerakan Nasional Indonesia Kompeten, serta sejumlah perguruan tinggi. Di antaranya, Universitas Indonesia dan Institut Seni Indonesia.
Syamsul menilai kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan pelaku industri dengan kapasitas riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Berbagai isu, antara lain material baru, pewarna alami, teknologi produksi, pemanfaatan limbah, desain, serta pengembangan produk akan menjadi bagian dari agenda insight program Inacraft.
Pameran akan diikuti 900 peserta. Mereka terdiri atas pelaku usaha dari berbagai daerah, pemerintah daerah, BUMN, serta mitra pendukung industri kriya. Pameran juga menjadi ruang temu pelaku usaha dengan pemberli, distributor, mitra bisnis, dan komunitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!