Tak Mau Salah Arah, Bappenas Sinkronkan SDM dengan Denyut Ekonomi
📅 Rabu, 06 Mei 2026, 19:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu dalam meningkatkan daya saing ekonomi di tengah transformasi global yang cepat.
Kualitas SDM tidak lagi hanya diukur dari tingkat pendidikan formal, tetapi juga dari kemampuan adaptasi, literasi digital, dan keterampilan problem solving.
Dalam konteks ini, sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah—termasuk peran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi—menjadi kunci untuk memastikan relevansi kompetensi dengan kebutuhan pasar kerja.
Dari sisi ekonomi, investasi pada SDM berdampak jangka panjang melalui peningkatan produktivitas dan inovasi.
Negara dengan SDM unggul cenderung lebih mampu menarik investasi dan mengembangkan industri bernilai tambah tinggi. Sebaliknya, keterbatasan kualitas SDM dapat menjadi hambatan struktural yang menahan laju pertumbuhan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, tantangan utama terletak pada kesenjangan akses dan kualitas pendidikan, serta perlunya percepatan upskilling dan reskilling di tengah disrupsi teknologi.
Tanpa strategi yang terarah dan berkelanjutan, pengembangan SDM berisiko tidak mampu mengejar dinamika kebutuhan ekonomi modern
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Febrian Alphyanto Ruddyard mengatakan pemerintah berkomitmen melakukan penyelarasan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan kebutuhan strategis nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Perlu perencanaan berbasis kebutuhan yang terukur, termasuk proyeksi jumlah SDM dengan kualifikasi tertentu, serta Indonesia harus memiliki kalkulasi terkait jumlah aparatur dengan kualifikasi spesifik dalam satu tahun,” katanya dalam pertemuan bersama perwakilan Monash University melalui keterangan resmi, Jakarta, Rabu (6/5).
Dalam konteks sektor prioritas, Wakil Kepala Bappenas menyoroti pentingnya penguatan kapasitas di bidang energi.
Menurut dia, energi adalah hal yang sangat penting dalam perencanaan nasional, sehingga bisa dimulai dengan langkah konkret. Misalnya, memberikan pengalaman langsung kepada SDM Bappenas di sektor seperti PLN agar memahami ekosistem energi di Indonesia. Pemahaman ini dianggap sangat krusial untuk perumusan kebijakan yang tepat.
Dia menyatakan tiga fokus utama sebagai titik awal kolaborasi dan Monash University, meliputi sistem pangan, bioenergi, dan pengelolaan sampah.
“Pengelolaan sampah, misalnya, merupakan kebutuhan nyata di Indonesia dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik dari sisi sains maupun bisnis. Ini adalah bagian dari inisiatif besar dalam reformasi sosial yang membutuhkan dukungan kebijakan yang kuat,” ujar dia.
Presiden Fakultas Bisnis Monash University Simon Wilkie menyampaikan komitmen institusinya dalam menjembatani dunia akademik dan kebijakan publik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!