Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Stabilitas Produksi Listrik PLTSa di NTB Bisa Terganggu, Volume Sampah Belum Cukup Penuhi Kebutuhan

📅 Selasa, 28 Apr 2026, 23:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Stabilitas Produksi Listrik PLTSa di NTB Bisa Terganggu, Volume Sampah Belum Cukup Penuhi Kebutuhan Doc: ANTARA/ Sugiharto Purnama
Ket. Pekerja mendorong sampah ke mesin pencacah untuk menghasilkan bahan bakar di fasilitas TPST RDF & SRF Kebon Kongok, Suka Makmur, Gerung, Lombok Barat, NTB, Kamis (15/5/2025).

MATARAM – Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) membutuhkan pasokan sampah konstan—misalnya, satu unit PLTSa sering kali membutuhkan ratusan hingga ribuan ton sampah per hari (seperti studi kasus 545 ton/ hari di Surakarta) agar insinerator tetap menyala dan menghasilkan panas yang stabil.

Mencapai Kapasitas Maksimum: Kekurangan bahan baku sampah menyebabkan pembangkit tidak dapat beroperasi pada kapasitas maksimum, sehingga target pasokan listrik ke PLN tidak tercapai.

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan volume sampah yang tersedia saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan minimal imvestor PLTSa.

Kepala DPMPTSP NTB Irnadi Kusuma mengatakan keterbatasan timbulan sampah tersebut menjadi kendala dalam rencana pengembangan PLTSa di TPA Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.

"Sampah masuk ke TPA Kebon Kongok hanya 450 ton per hari. Sedangkan, investor membutuhkan sebanyak 1.000 ton sampah per hari," ujar dia di Mataram, Selasa (28/4).

TPA Kebon Kongok merupakan kawasan pembuangan akhir regional yang beroperasi dengan sistem open dumping atau tempat penampungan akhir terbuka sejak tahun 1993 sampai hari ini.

TPA Kebon Kongok menggunakan metode sanitary landfill untuk mengelola timbulan sampah yang datang setiap hari dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat. Sampah organik mendominasi hingga 60 persen timbulan sampah di kawasan tersebut.

Irnadi menyampaikan potensi pemenuhan kebutuhan bahan baku sebenarnya bisa tercapai jika timbulan sampah dari sejumlah daerah di Pulau Lombok digabungkan, seperti dari Lombok Timur, Lombok Utara, dan Lombok Tengah.

Menurut dia, jika seluruh sampah dari Pulau Lombok dikumpulkan ke TPA Kebon Kongok berdampak terhadap kenaikan beban operasional bahan bakar dan pengangkutan sampah.

"Operasional untuk membawa sampah ke satu tempat belum bisa," ucap Irnadi.

DPMPTSP NTB menegaskan tetap berupaya menarik minat investor dengan mendorong berbagai potensi energi terbarukan lain di Nusa Tenggara Barat.

Selain PLTSa, investor juga mulai melirik potensi energi terbarukan lain salah satunya melalui pengembangan energi berbasis angin yang dilakukan PT Berkah Energi Lombok (BEL) di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Proyek tersebut masih dalam tahap awal karena perusahaan masih melakukan penelitian terkait kekuatan angin sebagai dasar pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB).

"Perusahaan itu berkomitmen menanamkan modal hampir Rp400 miliar," pungkas Irnadi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Masih Ditelusuri Jumlah Pas...
Olahraga
Akhirnya Randal Kolo Muani ...
Nasional
Sistem Pilkada Perlu Direfo...
Megapolitan
Wisatawan Mancanegara Ikut ...

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

02 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.