Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RUPTL Digas, BKPM Bidik Investasi Rp2.133 Triliun

📅 Selasa, 29 Sep 2026, 18:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
RUPTL Digas, BKPM Bidik Investasi Rp2.133 Triliun Doc: ANTARA FOTO/ Mohammad Ayudha
Ket. Ilustrasi-Petugas melakukan pengawasan mesin pengolahan sampah menjadi energi listrik pada instalasi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Putri Cempo di Solo, Jawa Tengah.

JAKARTA – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 membuka peluang investasi Rp2.133,7 triliun, seiring kebutuhan tambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 gigawatt.

"Implementasi RUPTL membuka peluang investasi sekitar Rp2.133,7 triliun, termasuk sekitar Rp1.341,8 triliun untuk EBT (energi baru terbarukan) melalui skema independent power producer," kata Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Sekretaris Utama BKPM M Rudy Salahuddin di Jakarta, Selasa (29/9).

Berdasarkan RUPTL 2025–2034, tambahan kapasitas sebesar 69,5 gigawatt tersebut terdiri atas 42,6 gigawatt atau 61 persen dari EBT, 10,3 gigawatt atau 15 persen dari penyimpanan energi, serta 16,6 gigawatt atau 24 persen dari pembangkit fosil.

Rudy menyebut pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi sumber EBT dengan tambahan kapasitas terbesar, yakni 17,1 gigawatt.

Dari sisi ketenagakerjaan, kebutuhan sektor pembangkitan diperkirakan mencapai lebih dari 836 ribu pekerja, dengan lebih dari 760 ribu di antaranya merupakan green jobs.

Selain itu, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 gigawatt dengan potensi tenaga surya mencapai sekitar 3.294 gigawatt.

Namun, kapasitas EBT yang telah dimanfaatkan pada 2026 baru sekitar 16,33 gigawatt atau kurang dari 0,5 persen dari total potensi tersebut.

Kondisi itu, katanya, menunjukkan ruang investasi yang masih luas, baik pada pembangkit, jaringan, penyimpanan energi, maupun industri pendukung.

Rudy menilai ketersediaan energi bersih juga semakin penting untuk menarik investasi pada industri masa depan, termasuk pusat data, kawasan industri hijau, transportasi rendah karbon, hidrogen, sustainable aviation fuel (SAF), amonia hijau hingga ekonomi sirkular.

“Dengan basis energi yang lebih bersih, Indonesia dapat membuka ruang bagi industri masa depan seperti amonia hijau, CCS/CCUS (teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi karbondioksida guna mengatasi perubahan iklim), pasar karbon, dan ekonomi sirkular. Dampaknya bukan hanya tambahan investasi, tetapi juga pekerjaan berkualitas, ekspor yang lebih kompetitif, dan posisi Indonesia yang lebih kuat dalam rantai pasok global,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.