Mengenal Aminah Syukur, Sosok Pahlawan Pendidikan yang Mengubah Masa Depan
📅 Selasa, 21 Apr 2026, 10:07 WIB | Oleh: Yebdi TrismarBerbicara tentang fondasi pendidikan perempuan di Samarinda tak bisa dilepaskan dari sosok Aminah Syukur. Namanya kini diabadikan sebagai salah satu jalan di kota itu. Lahir di Palembang pada 20 Januari 1901 dengan nama Atje Voorstad, jalan hidupnya membawanya ke Kalimantan Timur untuk mengemban peran yang melampaui sekadar tugas administratif seorang guru biasa.
Pada 1928 —tahun ketika Sumpah Pemuda diikrarkan di Batavia— Aminah bersama suaminya mengambil langkah yang visioner. Di kawasan Yacob Steg (kini Jalan Mutiara, Samarinda), mereka mendirikan Meisje School. Ini bukan sekadar sekolah, melainkan sebuah oasis.
Di masa ketika pendidikan formal masih menjadi kemewahan yang nyaris hanya dinikmati kalangan elite atau laki-laki, Meisje School hadir khusus bagi anak-anak perempuan pribumi yang kerap terpinggirkan.
Gaya mengajar Aminah dikenal penuh dedikasi. Ia tak hanya mentransfer ilmu di jam-jam sekolah formal. Kediamannya kerap menjadi tempat bagi murid-muridnya untuk mendapatkan les privat, yang terus ia jalani dengan telaten hingga usianya senja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari tangan pendidikannya lahir tokoh-tokoh penting yang kelak membangun daerah, di antaranya Lasiah Sabirin dan pionir politik, Djumantan Hasyim.
Penghormatan Pemerintah Kotamadya Samarinda pada 1970, dengan memindahkan makamnya ke TMP Kusuma Bangsa, menjadi penegasan atas jasa-jasanya.
Kini, namanya abadi, tak hanya terpatri sebagai nama salah satu jalan protokol Kota Samarinda, tetapi juga sebagai nama institusi pendidikan, memastikan bahwa semangatnya dalam mencerdaskan anak bangsa tak pernah padam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nyonya Lo Beng Long, donatur perintis Universitas Mulawarman
Jika Aminah Syukur meletakkan fondasi pada pendidikan dasar dan menengah, maka di jenjang pendidikan tinggi, sejarah mencatat sumbangsih luar biasa dari seorang perempuan Tionghoa.
Deru pembangunan Kalimantan Timur pascakemerdekaan pun tidak semata diwarnai oleh tokoh-tokoh etnis lokal, melainkan menjadi sebuah orkestrasi akulturasi dari beragam latar belakang, termasuk kontribusi Lo Beng Long.
Dikenal pula dengan nama Indonesianya, Dorinawati Samalo, ia adalah ibu dari Ronald Lolang —pengusaha bioskop yang mendirikan Bioskop Mahakama, nama yang melegenda di Benua Etam.
Namun, warisan terbesar Dorinawati bukanlah bisnis hiburan keluarganya, melainkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.
Jauh sebelum wacana pendirian kampus mencuat, Dorinawati telah menunjukkan sikap progresif. Ia terlibat aktif mendukung gerakan kaum Republiken di Samarinda. Dalam catatan wartawan Gemar Dachlan, pada peringatan HUT Proklamasi 17 Agustus 1948 yang sarat risiko di Gedung Nasional Samarinda, nama Dorinawati tercatat sebagai salah satu tokoh yang hadir dan memberikan dukungan nyata bagi Republik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!