Apa Solusi Kenaikan Harga BBM? Ganti Atau Campur Oktan Bensin Biar Hemat? Awas Ini Risikonya!
📅 Senin, 20 Apr 2026, 17:24 WIB | Oleh: OpikJAKARTA - Kenaikan harga BBM nonsubsidi di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah mendorong sebagian pengguna kendaraan mempertimbangkan penghematan, termasuk dengan mengganti atau mencampur jenis bahan bakar.
Namun, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, mengingatkan bahwa langkah tersebut berisiko terhadap performa hingga keawetan mesin.
Menurut Yannes, mengganti BBM beroktan lebih tinggi ke yang lebih rendah dapat berdampak langsung pada kinerja kendaraan.
“Risiko utama mengganti jenis BBM beroktan lebih rendah pada kendaraan adalah mesin menjadi panas berlebih, tenaga drop drastis, dan konsumsi BBM justru meningkat,” ujarnya ketika dihubungi wartawan dari Jakarta, Senin (20/4).
Ia menambahkan, dalam jangka 10.000–20.000 km, kondisi ini dapat memicu penumpukan deposit karbon di ruang bakar dan injektor. Dampaknya, mesin mengalami idle kasar, akselerasi tersendat, serta emisi menjadi lebih kotor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Risiko ini disebut semakin besar pada kendaraan dengan spesifikasi tinggi. Yannes menjelaskan, kendaraan sport dengan turbo atau rasio kompresi tinggi lebih rentan mengalami keausan komponen internal mesin, seperti ring piston, jika menggunakan BBM yang tidak sesuai spesifikasi.
Selain mengganti jenis BBM, praktik mencampur bahan bakar seperti Pertamax Turbo dengan Pertamax, misalnya, juga tidak disarankan.
“Tidak disarankan mencampur Pertamax Turbo dengan Pertamax biasa, sebab kedua jenis BBM ini memiliki komposisi aditif, densitas, dan karakteristik pembakaran berbeda,” kata Yannes.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan bahwa campuran dua jenis BBM dapat menghasilkan oktan yang tidak stabil. Dalam jangka menengah, kondisi ini memicu degradasi performa, pembakaran tidak merata, hingga knocking sporadis – suara ketukan pada mesin kendaraan yang terjadi secara tidak teratur.
Selain itu, dapat terbentuk endapan yang menyumbat filter serta meningkatkan potensi kerusakan pada sistem injeksi bertekanan tinggi seperti Common Rail atau GDI.
“Kerusakan komponen ini dalam jangka panjang akan membuat kita harus mengeluarkan biaya perbaikan hingga belasan juta rupiah,” ujarnya.
Yannes menegaskan bahwa mencampur BBM bukan solusi penghematan yang efektif, melainkan hanya menunda masalah dan berpotensi mempercepat kerusakan.
"Lebih bijak pilih satu jenis sesuai spesifikasi yang ditentukan pabrikan,” katanya.
BBM nonsubsidi naik
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!